Linggodbawa

Linggodbawa
Siwa sebagai pilar cahaya
Sculpture of a lingam with Shiva emanating out of it with Vishnu on the right and Brahma on the left
Siwa sebagai Linggodbawa (tengah), diapit Brahma (kiri) dan Wisnu (kanan), dengan Waraha (babi hutan) di bawah.
Dewanagariलिंगोद्भव
IASTLiṅgodbhava
Tamilலிங்கோத்பவா
KepercayaanHindu
AliranSaiwa

Linggodbawa (Dewanagari: लिंगोद्भव; ,IASTLiṅgodbhava,; dari kata liṅga dan udbhava, artinya "kemunculan lingga") adalah suatu penggambaran ikonik dari Dewa Siwa dalam kepercayaan Hindu. Linggodbawa menampilkan sosok Siwa yang muncul dari suatu pilar cahaya. Ia berfungsi sebagai penggambaran asal-usul lingga, objek pemujaan Siwa. Kisah Linggodbawa muncul dalam berbagai pustaka Purana.

Legenda

Dalam legenda di kalangan umat Saiwa, dikisahkan bahwa Dewa Wisnu dan Brahma pernah berdebat tentang keunggulan masing-masing. Untuk mengakhiri debat tersebut, Dewa Siwa muncul di antara mereka berdua dalam wujud pilar cahaya yang sangat besar,[1] lalu menantang mereka untuk menemukan ujung dan pangkal wujud tersebut.[2][3] Brahma mengubah wujudnya menjadi angsa lalu terbang mencari puncak pilar tersebut, sedangkan Wisnu berubah wujud menjadi Waraha (babi hutan) lalu menggali Bumi untuk menemukan dasarnya. Baik Brahma maupun Wisnu tidak mampu menemukan ujung-pangkalnya.

Ketika Wisnu mengakui kekalahannya, Brahma berbohong dan berkata bahwa ia telah mencapai puncaknya. Siwa marah akan bualan Brahma, lalu berubah wujud menjadi Bairawa dan memenggal salah satu kepala Brahma. Sebagai hukuman, Siwa mengutuk bahwa Brahma tidak akan dipuja di kuil manapun. Karena Siwa telah memenggal salah satu kepala Brahma, maka ia melakukan dosa brahmahatyāpāpa (pembunuhan terhadap brahmana atau setingkat dengan itu) sehingga wajib mengembara di tiga dunia sebagai Biksatana (pengemis telanjang) untuk menebus dosanya. Dosa tersebut akhirnya ditebus saat berada di Varanasi, tepatnya di tepi sungai Gangga.[2] Legenda tersebut dinarasikan dalam kitab Wisnupurana.[4]

Ikonografi

Relief Siwa muncul dari kobaran api, dengan Wisnu di kanan dan Brahma di kiri.

Citra Linggodbawa dapat ditemukan dalam ruang suci kuil Siwa, tepatnya di belakang arca Siwa dengan Wisnu dan Brahma di sisi kanan-kirinya. Kisah Linggodbawa atau "kemunculan Lingga" tercatat dalam berbagai naskah Purana, merangkul peleburan antara kultus pilar dan pemujaan totem.[5] Gagasan berawal dari keyakinan akan adanya sesosok dewa yang mendiami suatu pilar, kemudian lambat laun dibayangkan sebagai sosok Siwa yang muncul dari suatu Lingga.[6] Siwa dilambangkan sebagai Lingga pada berbagai kuil di seantero India Selatan.

Citra Linggodbawa menggambarkan sosok Siwa muncul dari suatu Lingga dalam wujud yang biasa. Wisnu dalam wujud babi hutan (Waraha) biasanya digambarkan di bawah Lingga, sedangkan Brahma dalam wujud angsa digambarkan di atas Lingga. Di beberapa kuil, Linggodbawa digambarkan dengan Brahma di sisi kanan dan Wisnu di sisi kiri, keduanya memuja Siwa yang muncul dalam pilar api.

Linggodbawa dan Daksinamurti dianggap sebagai wujud umum dari Dewa Siwa di India Selatan sejak zaman kerajaan Chola.[7]

Referensi

  1. ^ Pattanaik, Devdutt (2017). Devlok. Vol. 2. Random House Publishers India Pvt. Ltd. hlm. 126. ISBN 9789386495150.
  2. ^ a b Aiyar 1982, pp. 190–191
  3. ^ "Tiruvannamali Historical moments". Tiruvannamalai Municipality. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 October 2013. Diakses tanggal 6 September 2012.
  4. ^ Eshleman, Clayton (2003). Juniper Fuse Upper Paleolithic Imagination & the Construction of the Underworld. Wesleyan University Press. hlm. 232. ISBN 9780819566058.
  5. ^ Anand 2004, p. 132
  6. ^ Vasudevan 2003, p. 105
  7. ^ T.K., Venkatasubramanian (1996). "Proceedings IHC 57th session". Address of the Sectional President: Chiefdom of State: Reflections on Kaveri Delta Social Formations – Proceedings of the Indian History Congress. 57. Indian History Congress: 4. JSTOR 44133294.

Daftar pustaka

  • Anand, Swami P.; Swami Parmeshwaranand (2004). Encyclopaedia of the Śaivism. New Delhi: Sarup & Sons. ISBN 81-7625-427-4.
  • Parmeshwaranand, Swami; Swami Parmeshwaranand (2001). Encyclopaedic Dictionary of Puranas: Volume 3.(I-L). New Delhi: Sarup & Sons. ISBN 81-7625-226-3.
  • Vasudevan, Geetha (2003). The royal temple of Rajaraja: an instrument of imperial Cola power. New Delhi: Abhinav Publications. ISBN 81-7017-383-3.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.