Jyesta
| Jyesta | |
|---|---|
Dewi rintangan dan kemalangan | |
Jyesta dalam lukisan India (ca 1820), digambarkan membawa sapu dan tampah. | |
| Nama lain | Alaksmi, Mudewi |
| Afiliasi | Dewi |
| Atribut | sapu, tampah |
| Wahana | keledai |
| Dewa/dewi terkait | Alaksmi |
| Kepercayaan | Hindu India |
| Keluarga | |
| Saudara | Laksmi |
| Pasangan | Dusaha |
Jyesta (Dewanagari: ज्येष्ठा; IAST: Jyeṣṭhā) adalah dewi kesulitan dan kemalangan dalam agama Hindu.[1] Dia dipercaya sebagai kakak sekaligus antitesis dari Laksmi, dewi kemakmuran dan keberuntungan. Di India Selatan, dia juga biasa dikenali dengan nama Mudewi (Mūdevi).[2]
Jyesta erat hubungannya dengan tempat-tempat buruk dan pelaku kejahatan. Dia juga terkait dengan kemalasan, kemiskinan, kegundahan, keburukan, dan biasa digambarkan bersama burung gagak. Kadangkala dia diidentikkan dengan Alaksmi, dewi kemalangan lainnya. Pemujaannya hanya dilakukan oleh kaum wanita saja, yang memohon agar dia menjauh dari rumah mereka.
Jyesta muncul dalam tradisi Hindu paling awal sekitar masa 300 SM. Pemujaannya mencapai puncak di India Selatan pada abad ke-7 dan ke-8. Pada abad ke-10, ketenarannya memudar, hingga akhirnya menghilang. Pada masa kini, banyak peninggalan arca kuno yang menggambarkan Jyesta, meskipun dia jarang dipuja lagi.
Legenda

Banyak legenda Hindu yang mengisahkan bahwa kemunculan Jyesta terjadi saat peristiwa pengadukan samudra susu (Samudramantana). Biasanya dia dikisahkan lahir bersamaan dengan racun Kalakuta yang menyembur dari samudra, sedangkan Laksmi (antitesisnya) lahir ketika ramuan keabadian (tirta amerta) muncul dari dasar samudra.[3]
Menurut kitab Padmapurana, ketika pengadukan samudra sedang berlangsung, yang muncul pertama kali dari dalam samudra adalah racun (kalakuta). Kemudian racun tersebut ditelan oleh Dewa Siwa, lalu Jyesta muncul dari samudra dengan mengenakan busana merah. Dia menghadap para dewa untuk menanyakan tugas apa yang harus dia lakukan. Para dewa memintanya untuk tinggal di tempat yang sering terjadi keributan, tempat para pembohong dan pengumpat, kediaman orang jahat, dan tempat yang penghuninya berambut gondrong serta menyimpan tulang, tengkorak, dan abu pembakaran (praktisi ajaran bidah).[4]
Menurut Linggapurana, Dewa Wisnu membagi dunia menjadi sisi baik dan buruk. Dia menciptakan Laksmi (Sri) dan Jyesta dari proses pengadukan samudra susu. Saat Laksmi menikahi Wisnu, Jyesta menikahi Resi Dusaha. Setelah tinggal bersama, sang resi pun menyadari bahwa istrinya tidak tahan dengan suara atau penampakan benda yang membawa keberuntungan. Akhirnya dia menggugat Wisnu (dalam beberapa versi, ia menggugat Resi Markandeya). Wisnu (atau Markandeya) menyarankan Dusaha untuk mengajak Jyesta ke tempat-tempat yang buruk saja. Disebutkan bahwa Jyesta menjauhi orang-orang religius, sehingga dia pun menyandang gelar Alaksmi, "tidak membawa keberuntungan". Dia menghuni rumah yang penghuninya sering bertengkar, dan orang tua yang mengabaikan rasa lapar anak-anaknya. Konon dia juga nyaman berada di antara para praktisi ajaran yang dianggap sesat oleh agama Hindu. Merasa lelah akan sifat antisosial istrinya, Dusaha pun meninggalkan Jyesta di tempat pelaku ajaran dan ritual non-Weda. Kemudian Jyesta menghadap Wisnu setelah menyadari kesalahannya. Wisnu pun bersabda bahwa Jyesta akan tetap dipuja oleh para wanita.[5][6]
Catatan kaki
- ^ Mani, Vettam (1975). Puranic Encyclopaedia: A Comprehensive Dictionary With Special Reference to the Epic and Puranic Literature. Delhi: Motilal Banarsidass. hlm. 360. ISBN 0-8426-0822-2.
- ^ Kampar (2002). Kamba Ramayana (dalam bahasa Inggris). Penguin Books India. hlm. 414. ISBN 978-0-14-302815-4.
- ^ Leslie p. 120
- ^ Leslie p. 121
- ^ Kinsley (1997) pp. 178-9
- ^ Leslie pp. 121-2
Referensi
- Kinsley, David R. (1997). Tantric visions of the divine feminine: the ten mahāvidyās. University of California Press. ISBN 978-0-520-20499-7.
- K.G., Krishnan (1981). Studies in South Indian History and Epigraphy volume 1. Madras: New Era Publications.
- Leslie, Julia (1992). "Sri and Jyestha: Ambivalent Role Models for Women". Dalam Leslie, Julia (ed.). Roles and rituals for Hindu women. Motilal Banarsidass. ISBN 81-208-1036-8.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.