Thuggee

Thuggee
Sekelompok pria mengalihkan perhatian seorang pengembara yang sedang duduk, sementara pria lain bersiap mencekiknya dengan garot
DurasiKemungkinan abad ke-17 atau ke-18 – dekade 1840-an[1][2]
LokasiAnak benua India, terutama India Tengah[3]
PenyebabFaktor sosial-ekonomi, kemunduran Kekaisaran Mughal dan perluasan kekuasaan Britania
MotifPerampokan, dugaan pengorbanan manusia
SasaranPara pengembara
TewasRatusan jenazah digali kembali[4][5]
Perkiraan total 50.000–100.000 orang[6][a]
Vonis1.368 (1826–1835)[8]
4.224 (1826–1847)[9]

Thuggee[c] atau thag adalah suatu fenomena perampokan jalan raya di anak benua India yang melibatkan geng-geng Thug yang membunuh dan merampok para pengembara, sering kali dengan cara mencekik. Pada masa kolonial Britania, thuggee digambarkan dan dipopulerkan sebagai sebuah persaudaraan rahasia yang tersebar di seluruh India, terdiri atas para pencekik ritual yang berakar sejak zaman kuno serta didorong oleh fanatisme dan haus darah.[14] Penggambaran tersebut mulai menuai kritik akademis yang tajam sejak dekade 1950-an. Berbagai penafsiran ulang sejarah pada umumnya mempersoalkan pentingnya unsur agama dalam praktik thuggee dan memandang para Thug sebagai penjahat biasa, atau thuggee sebagai salah satu bentuk perampokan oleh gerombolan. Di kalangan sejarawan kontemporer, terdapat konsensus umum yang menolak penggambaran era kolonial tersebut.[15]

Fenomena thuggee mulai mendapat perhatian luas pada awal abad ke-19, seiring meluasnya Kekuasaan Perusahaan Hindia Timur Britania di India. Pada dekade 1830-an, administrator kolonial William Henry Sleeman memimpin kampanye kepolisian untuk memberantas thuggee, yang didukung oleh perkembangan hukum yang mempermudah penjatuhan vonis. Pada tahun 1835, Departemen Thuggee dan Dacoity secara resmi dibentuk untuk menangkap dan menuntut para anggota geng tersebut. Sleeman menulis sejumlah karya mengenai thuggee dan, bersama rekan-rekannya, mendokumentasikan wawancara dengan para approver[d] yang menjadi landasan utama penggambaran thuggee pada era kolonial sekaligus merupakan sebagian besar sumber mengenai fenomena tersebut. Oleh pemerintah kolonial, thuggee dipandang sebagai bentuk "kriminalitas yang diwariskan", dan kampanye pemberantasannya kemudian menjadi preseden bagi Undang-Undang Suku Kriminal 1871 yang mengkriminalisasi komunitas-komunitas pengembara.[17]

Para cendekiawan kontemporer pada umumnya menempatkan para Thug dalam konteks kekacauan dan disrupsi yang menyertai kemunduran Kekaisaran Mughal, yang semakin diperparah oleh meluasnya kekuasaan Britania. Revisionisme sejarah juga menyoroti beragamnya latar belakang individu yang ditangkap selama kampanye tersebut. Salah satu teori yang semakin banyak diterima di kalangan sejarawan menyatakan bahwa fenomena ini merupakan akibat dari menyusutnya pasar tenaga kerja militer setelah penaklukan Britania dan Perusahaan Hindia Timur Britania membubarkan pasukan tetap pribumi. Menurut teori tersebut, sebagian bekas prajurit dan kelompok tentara bayaran yang hidup berpindah-pindah beralih menjadi perampok jalanan ketika kesempatan kerja semakin menyempit. Sejumlah cendekiawan menggambarkan representasi abad ke-19 tentang thuggee sebagai ciptaan atau distorsi rezim Kompeni yang berfungsi melegitimasi kekuasaan kolonial sekaligus memperluas kendali Kompeni atas penduduk India.

Setelah terbitnya novel Confessions of a Thug pada tahun 1839, thuggee menjadi sensasi di kalangan masyarakat era Victoria. Dalam karya-karya fiksi, para Thug umumnya digambarkan sebagai tokoh antagonis bercorak Orientalis, antara lain dalam novel The Wandering Jew (1844), seri Sandokan karya Emilio Salgari, serta The Deceivers (1952). Penggambaran yang terkenal dalam film antara lain terdapat dalam Gunga Din (1939), Indiana Jones and the Temple of Doom (1984), dan Thugs of Hindostan (2018).

Etimologi dan tata nama

Thug (Hindustan: ठग; ٹھگ) berarti 'penipu' atau 'penipu ulung' dan berasal dari kata Sanskerta स्थग (sthaga) yang berarti 'menutupi' atau 'menyembunyikan'.[18][19] Penggunaan paling awal yang secara umum diterima atas kata tersebut berasal dari tahun 1350. Pada masa India prakolonial, istilah ini kadang-kadang digunakan, dalam pengertian yang sama dengan penggunaannya kemudian oleh Britania, untuk menyebut perampok jalanan yang menipu dan membunuh korbannya.[20][21] Namun, makna tersebut bukanlah satu-satunya arti dari istilah itu; pengertian harfiahnya tidak selalu mengandung konotasi yang berkaitan dengan kekerasan.[21] Pada tahun 1820, seorang hakim Britania menyatakan dalam laporannya bahwa di Provinsi Barat[e] "kata Thug merupakan istilah argot setempat dan oleh karena itu tidak banyak dipahami secara seragam".[20]

Kata bahasa Inggris thug merupakan kata serapan yang berasal dari akar kata yang sama.[23] Kata phansigar (फाँसीगार; پھانسی گار) yang secara harfiah berarti 'pencekik' digunakan secara bergantian dengan thug sepanjang abad ke-19 dan cenderung lebih umum dipakai di Kepresidenan Madras.[24] Istilah Thuggee mengacu pada praktik yang dilakukan oleh para Thug maupun tindak kejahatan itu sendiri.[25]

Sejarah

Kemungkinan catatan prakolonial

Pada abad ke-7, biksu Tiongkok Xuanzang diserang oleh para perompak di Sungai Gangga selama perjalanannya melintasi India dan nyaris menjadi korban persembahan kepada Durga.[26][27] Pada kesempatan lain, ketika melewati sebuah kuil dalam perjalanan menuju Pataliputra, Xuanzang diberi tahu bahwa tidak ada orang asing yang memasuki kuil tersebut yang pernah keluar lagi.[26] Pada abad ke-19, arkeolog Alexander Cunningham mengklaim telah berhasil mengidentifikasi kuil tersebut dan mengemukakannya sebagai catatan paling awal mengenai thuggee.[28][27] Kim A. Wagner berpendapat bahwa, dengan logika semacam itu, setiap catatan mengenai perampokan oleh gerombolan dan pengorbanan manusia di India kuno dapat dihubungkan dengan para Thug pada abad ke-19.[27] Menurut kronik abad ke-14 karya Ziauddin Barani, Sultan Jalal-ud-Din Khalji mengasingkan 1.000 orang "thag" yang ditangkap dari Delhi ke Benggala pada tahun 1290; namun, kronik tersebut tidak menjelaskan alasan mereka ditangkap.[20][27] Penyair abad ke-15 hingga ke-16 Surdas menulis tentang seorang "thag" yang memikat seorang peziarah dengan manisan dan anggur sebelum akhirnya membunuh dan merampoknya.[29]

Setelah melakukan perjalanan melintasi India pada tahun 1666–1667, Jean de Thévenot menulis tentang "para perampok paling licik di dunia" yang beroperasi di wilayah Delhi. Mereka mencekik korbannya dengan jerat yang dapat dikencangkan dan menggunakan perempuan-perempuan cantik untuk memancing para pengembara.[30][31] Pada tahun 1672, Kaisar Mughal Aurangzeb mengeluarkan sebuah firman yang menetapkan hukuman bagi para pencekik, termasuk mereka yang "telah terbiasa melakukan perbuatan itu" atau yang dikenal luas oleh penduduk setempat karena kejahatan tersebut.[32][33] John Fryer menulis tentang pengalamannya menyaksikan eksekusi lima belas anggota sebuah gerombolan perampok pada tahun 1675, di dekat Surat, yang mencekik dan merampok para pengembara dengan menggunakan tali busur dari kapas.[34][35] Sekitar tahun 1680, seorang penulis berita India untuk Waqa'i Ajmer menyebut adanya "perampok jalanan yang dalam bahasa Hindi dikenal sebagai thags" di Rajputana.[36] Pada tahun 1785, James Forbes menceritakan bahwa seorang kenalannya di India pernah menyaksikan penangkapan beberapa orang yang berasal dari suatu suku yang ia sebut sebagai phanseegurs, dan menggambarkan bagaimana mereka menipu serta mencekik para pengembara.[37] Sebuah daftar pajak Negara Gwalior tahun 1797 mencatat 318 rumah milik para Thug yang dikenai pajak prajurit. Daftar tersebut diperoleh oleh seorang pejabat Britania dan mencakup 20 desa di seluruh pargana Parihara dan Sursa.[38][39][f]

Era kolonial

Krisis Etawah (1809–1811)

Tampilan diperbesar wilayah India utara dan India Tengah

Pemerintah kolonial Britania pertama kali berhadapan dengan fenomena yang kemudian mereka sebut sebagai thuggee di India Selatan pada tahun 1807 dan di India Utara pada tahun 1809.[41] Pada April 1809, sepuluh jenazah ditemukan di sebuah sumur di Distrik Etawah (yang baru diserahkan kepada Britania pada tahun 1801), sehingga hakim Etawah, James Law, diperintahkan untuk menyelidiki pembunuhan tersebut.[42] Para hakim dari distrik tetangga, yaitu Aligarh dan Farrukhabad, kemudian diminta membantu setelah penyelidikan Law tidak membuahkan hasil, terutama setelah ditemukannya empat prajurit pribumi yang tewas dicekik pada bulan Juli.[43] Pada bulan November, asisten Law membuat penyebutan resmi pertama mengenai "Tugs [sic]", dengan menggambarkan mereka sebagai "sekelompok orang ... yang sejak dahulu kala secara diam-diam menjalankan praktik mereka yang keji dan menyedihkan".[44]

Setelah dua orang pengembara yang tewas dicekik ditemukan pada bulan Desember dan penyelidikan yang lebih menyeluruh dimulai, Law menulis: "Diduga bahwa orang-orang yang dibunuh tersebut adalah para pengembara yang menjadi korban ras monster menjijikkan yang disebut T,ugs [sic] ... mereka begitu erat bersekutu sehingga hampir tidak pernah diketahui ada di antara mereka yang membocorkan rahasia sesamanya."[45] Sepanjang Desember hingga awal tahun 1810, lebih banyak jenazah kembali ditemukan, sementara di tengah penyelidikan tersebut Law dicopot dari jabatannya.[46] Ketika dimintai keterangan dalam penyelidikan pada bulan Februari, para zamindar setempat melaporkan bahwa pelakunya diduga adalah para "Thug".[47]

Antara tahun 1808 dan 1809, sebanyak 67 jenazah ditemukan di sumur maupun di sepanjang jalan raya di Etawah, disusul 11 jenazah lainnya yang ditemukan pada awal tahun 1810 di antara Mainpuri dan Agra.[48] Pengganti Law, Thomas Perry, menawarkan hadiah besar sebesar  1.000 bagi siapa pun yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan para pelaku.[48][49] Setelah delapan orang yang diduga sebagai Thug ditangkap pada Maret 1810, seorang anggota muda geng tersebut, Ghulam Hussain, bersedia memberikan kesaksian dengan imbalan pengampunan dan mengklaim bahwa terdapat sekitar 1.500 orang Thug yang bermarkas di Etawah.[50] Hussain menyatakan bahwa ketika masih kecil ia diadopsi oleh geng tersebut setelah ayah dan pamannya dibunuh oleh mereka. Para tahanan lainnya pada awalnya juga mengakui telah membunuh para pengembara selama bertahun-tahun.[51][52] Dalam persidangan di Mainpuri pada bulan November, Hussain memperagakan di hadapan pengadilan cara geng itu mencekik korbannya. Namun, persidangan berubah menjadi kacau karena ia berulang kali mengubah keterangannya mengenai sejauh mana keterlibatannya dalam geng tersebut.[53] Pada akhirnya ia mengaku telah mengikuti lima ekspedisi dan menyaksikan 95 pembunuhan. Meskipun demikian, pengadilan menolak kesaksiannya karena ia berulang kali melakukan sumpah palsu, dan kemudian diputuskan bahwa pengakuannya tidak dapat dijadikan dasar untuk mengadilinya atas pembunuhan yang diakuinya telah diikuti.[54] Perry terpaksa membebaskan para tersangka, dan kemudian ditegur oleh Nizamat Adalat (mahkamah agung milik Perusahaan Hindia Timur Britania) karena menahan 162 orang yang diduga sebagai Thug tanpa bukti yang memadai.[55]

Dekade 1810-an dan 1820-an

Regulation VI tahun 1810 untuk pertama kalinya menggolongkan Thug sebagai kategori pelaku kriminal yang tersendiri, sejajar dengan Dacoit, Cozauk, dan Buddeck.[56][g] Pada tahun yang sama, jabatan Superintendent Polisi untuk Provinsi Barat dibentuk untuk menangkap para Dacoit, Cozauk, dan terutama para Thug.[22] Meskipun banyak orang dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan keliling, Nizamat Adalat pada akhirnya membatalkan seluruh perkara tersebut karena hanya didasarkan pada pengakuan para tersangka Thug.[60][h] Pada Juli 1812, Nathaniel J. Halhed[i] ditugaskan untuk menegakkan hukum dan ketertiban Britania di thana Sindouse (yang terletak di pargana Parihara, bagian paling selatan Etawah), sebuah wilayah tempat para zamindar setempat diduga melindungi para Thug.[64][65] Halhed mengunjungi daerah tersebut dengan pengawalan militer pada bulan Oktober. Setelah memerintahkan desa-desa di sekitarnya untuk menyerahkan senjata, rombongannya disergap oleh penduduk desa dan seorang perwira Britania tewas dalam bentrokan itu. Sebagai balasan, desa Murnae dihancurkan pada bulan berikutnya.[j] Operasi tersebut menyebabkan para Thug berpencar ke wilayah Maratha di sekitarnya.[67] Dalam laporannya pada bulan Desember, Halhed menolak gambaran mengenai para Thug sebagai suatu "perkumpulan rahasia yang menyerupai Illuminati", dan menegaskan bahwa mereka "tidak lebih dari sejenis perampok" yang membunuh korbannya dan tidak menganggap profesi mereka sebagai sesuatu yang memalukan.[68]

Setelah operasi tahun 1812, para Superintendent Polisi Provinsi Barat berikutnya secara berturut-turut melaporkan bahwa aktivitas thuggee menurun di Etawah, Aligarh, dan Cawnpore di wilayah tengah Doab, tetapi pada saat yang sama meningkat di Allahabad dan Bundelkhand, sehingga pusat kegiatannya bergeser ke arah selatan dan timur.[69] Dalam laporan tahunannya untuk tahun 1815, Superintendent John Shakespeare menyatakan bahwa "masih banyak keraguan mengenai keberadaan suatu golongan masyarakat tersendiri yang disebut T'hegs [sic]", meskipun ia sendiri tidak meragukan adanya "perkumpulan-perkumpulan tetap" para Thug yang menurutnya merupakan para perampok.[70] Dalam penggolongannya mengenai lima jenis Thug, Shakespeare memasukkan para Bairagi dan Gosain pengemis agama yang membius dan merampok para pengembara.[71]

Regulation VIII tahun 1818 pada dasarnya mengizinkan para Dacoit yang terkenal untuk ditahan tanpa batas waktu, sedangkan Regulation III tahun 1819 memperluas ketentuan tersebut sehingga juga berlaku bagi para Thug.[72] Pada dekade 1820-an, pemerintah kolonial mulai menyerahkan para Thug yang tertangkap kepada para penguasa dan kepala daerah setempat untuk menghindari sistem hukum kolonial Britania dan menjatuhkan hukuman melalui mereka.[73] Para Thug pertama dijatuhi hukuman di Saugor pada tahun 1826; dua orang dihukum gantung dan 29 lainnya dijatuhi pembuangan sebagai hukuman seumur hidup.[74] Hal ini dimungkinkan karena Saugor dan Nerbudda telah ditetapkan sebagai Wilayah Non-Regulation pada tahun 1818, sehingga Agen di Saugor dapat bertindak di luar peraturan umum Perusahaan Hindia Timur Britania dengan kewenangan yang nyaris tidak terbatas.[74] Pada tahun 1829 di Kepresidenan Bombay, dua orang Thug dijatuhi hukuman gantung, enam orang dihukum pembuangan, dan seorang lainnya dipenjara seumur hidup atas pembunuhan enam pria yang membawa barang-barang berharga senilai ₨ 100.000 pada bulan Februari.[75][k]

Kampanye terpusat (1829–1839)

Pada tahun 1829, Agen di Mahidpur, Kapten William Borthwick, menangkap 74 orang Thug atas pembunuhan lima orang pengembara.[77][78][79] Hingga saat itu, upaya pemberantasan thuggee dipimpin oleh pemerintah daerah. Kasus tersebut menjadi intervensi besar pertama oleh pemerintah pusat di Benggala, yang berupaya tidak hanya memperoleh putusan bersalah, tetapi juga membangun landasan hukum yang memperlakukan para Thug sebagaimana bajak laut, sehingga mereka dapat dihukum oleh otoritas mana pun yang berhasil menangkap mereka.[80][81] Dalam surat tertanggal Oktober 1829, pemerintah menjelaskan bahwa pembunuhan-pembunuhan tersebut terjadi di wilayah yang berada di bawah kekuasaan berbagai penguasa pribumi, sehingga tidak ada satu otoritas pun yang berwenang mengadili para pelakunya.[78][l] Sebanyak 40 orang Thug dijatuhi hukuman gantung, 20 orang dihukum pembuangan sebagai hukuman seumur hidup, dan 12 orang lainnya menerima hukuman dengan masa terbatas.[82] Sekretaris Utama Pemerintah, George Swinton, mengusulkan agar seorang pejabat ditugaskan untuk mengawasi lima orang approver (istilah pada masa itu untuk informan)[16] dan secara khusus diberi tugas menangkap para Thug, sementara Agen di Bundelkhand dipilih untuk memeriksa desa-desa dengan bekerja sama dengan para kepala desa.[83]

Pemindaian halaman sebuah buku. Kata pengantar editor memuji keahlian penulis artikel tersebut mengenai Thug dan menyinggung besarnya perhatian publik terhadap persoalan tersebut.
Awal surat bulan Oktober 1830 yang dicetak ulang pada tahun 1832[84]

Kapten William Henry Sleeman, sebagai asisten Agen di Jubbulpore, mulai menugaskan para approver yang berada dalam tahanannya untuk mengawal detasemen pasukan di sepanjang jalur-jalur yang rawan, dan metodenya menghasilkan penangkapan 24 orang Thug pada tahun 1830.[85] Penangkapan yang dilakukan oleh Sleeman dan Borthwick mendorong pertukaran informasi secara luas di antara para pejabat serta saling berbagi approver, sehingga memicu gelombang penangkapan sepanjang tahun 1830.[86] Pada bulan Oktober, Sleeman mengirimkan sebuah surat anonim ke Calcutta Literary Gazette berjudul 'Thugs' yang mengisahkan eksekusi terhadap 11 orang Thug dan menyatakan bahwa para Thug merupakan penyembah fanatik seorang dewa pelindung yang dikenal dengan nama "Davey, Kalee, Doorga, dan Bhowanee".[87] Surat tersebut juga menyatakan bahwa markas besar para Thug berada di Kuil Vindhyachal dekat Mirzapur, tempat para pendeta Hindu kuil merencanakan ekspedisi mereka.[87] Selain itu, surat tersebut memaparkan rincian mengenai dugaan sifat keagamaan thuggee dan mendesak agar pemerintah "dengan cara apa pun mengakhiri sistem pembunuhan yang mengerikan ini, yang setiap tahunnya mengorbankan ribuan jiwa manusia di setiap jalan raya utama di seluruh India".[87][88]

Lukisan William Henry Sleeman
William Henry Sleeman

Surat tersebut memberikan kesan yang kuat kepada pemerintah. Keesokan harinya, Swinton menulis bahwa pemusnahan "suku" ini akan menjadi "anugerah bagi rakyat India" yang sebanding dengan penghapusan praktik sati.[89] Swinton merupakan penggerak utama di lingkungan pemerintah dalam upaya memerangi thuggee. Meskipun identitas penulis surat tersebut tetap dirahasiakan, Sleeman diangkat menjadi Agen di Saugor pada bulan yang sama.[90] Pada bulan November, Francis Curwen Smith, Agen untuk Wilayah Saugor dan Nerbudda, mengajukan sebuah rencana yang disusunnya bersama Sleeman. Rencana tersebut mengusulkan pembentukan jabatan Superintendent Penindakan Thug yang bertugas mengirim para Thug untuk diadili di pengadilan Saugor dan Nerbudda.[91][92] Laporan itu menjadi penggambaran pertama mengenai thuggee sebagai identitas yang tidak dapat diperbaiki lagi dan berakar pada sifat haus darah.[93] Gubernur Jenderal Lord William Bentinck menolak membentuk lembaga khusus untuk menangani thuggee, tetapi memberikan kepada Sleeman 50 orang barkandaz[m] untuk mengejar dan menangkap para anggota geng.[93] Surat Oktober 1829 tersebut dijadikan dasar oleh Smith dan Sleeman untuk menyatakan adanya yurisdiksi baru di bawah Departemen Politik Perusahaan Hindia Timur Britania sekaligus menetapkan asas supremasi Britania dalam pengadilan terhadap para Thug di negara kepangeranan.[95]

Sebagai Komisaris Wilayah Saugor dan Nerbudda, Smith mengawasi persidangan perkara thuggee, sementara Sleeman diangkat sebagai Superintendent operasi pemberantasannya.[95] Dalam operasi tersebut, para approver dikirim bersama detasemen pasukan untuk menggali kembali jenazah korban dan mengidentifikasi bekas rekan mereka, sementara jumlah approver terus bertambah seiring semakin banyaknya Thug yang ditangkap.[96] Pada bulan Desember 1830, Sleeman berhasil menangkap pemimpin geng thuggee Feringheea setelah menahan anggota keluarganya sebagai sandera. Penangkapan ini dimanfaatkan oleh Smith dan Sleeman untuk mempublikasikan kampanye mereka sekaligus menuntut tambahan sumber daya.[96][97][98] Sejak tahun 1830, pemerintah memerintahkan agar para Thug yang dijatuhi hukuman penjara diberi cap berupa Godna (tato tradisional)[99] pada bagian tubuh yang mudah terlihat, biasanya di dahi.[100][101] Pada tahun 1832 dan 1833, para pejabat dikirim ke Doab dan Rajputana untuk mengawasi operasi anti-thuggee di wilayah tersebut.[102] Para Thug dijatuhi hukuman berdasarkan bukti tidak langsung dan kesaksian approver. Antara tahun 1832 dan 1833, sebanyak 145 orang Thug dihukum gantung, 323 orang dijatuhi hukuman pembuangan, dan 41 orang dipenjara seumur hidup oleh pengadilan Saugor dan Nerbudda.[96][103] Sleeman memanfaatkan persaingan antarfaksi thuggee untuk memperoleh kesaksian para approver, dengan mengeksploitasi perbedaan kesetiaan antarkeluarga dan kasta dalam geng tersebut, misalnya antara Thug Hindu dan Muslim.[96]

Peta tua Negara Oudh dengan jalur-jalur mengikuti jalan raya yang ditandai titik-titik secara berkala
Peta aktivitas thuggee di Negara Oudh tahun 1838 yang dibuat oleh Kapten James Paton, Asisten Residen di Lucknow yang memimpin Kampanye Anti-Thuggee di Oudh sejak pertengahan dekade 1830-an[104][11][n]

Pada tahun 1834, Smith mulai menyerukan pembentukan badan pusat untuk memberantas thuggee yang akan menempatkan para pejabat di lebih banyak wilayah.[102] Dengan dukungan sebuah laporan resmi, pemerintah mendirikan Departemen Thuggee dan Dacoity pada Januari 1835 dan mengangkat Sleeman sebagai "Superintendent Jenderal Operasi Penindakan Thuggee" pada bulan Maret.[102][106] Pada tahun 1836, "Thug Sungai" yang beroperasi di Sungai Gangga ditemukan di Bihar, Orissa, dan Benggala. Mereka menyingkirkan korban dengan melemparkannya ke sungai dari atas perahu sehingga hanya menyisakan sedikit bukti tidak langsung untuk digunakan dalam persidangan.[107]

Sleeman menggunakan temuan tersebut untuk berpendapat bahwa diperlukan peraturan baru agar para pelaku dapat dihukum. Akibatnya, Act XXX Tahun 1836 disahkan, yang menjadikan keanggotaan dalam sebuah geng thuggee saja sudah dapat dihukum dengan penjara seumur hidup disertai kerja paksa.[107][o] Istilah Thug sendiri tidak didefinisikan secara khusus dan kemudian menjadi istilah hukum yang mencakup berbagai jenis kejahatan, seperti peracunan (Thug Datura), sementara geng-geng thuggee asli yang dapat ditelusuri asal-usulnya hingga Sindouse pada praktiknya telah lenyap pada masa itu.[109] Pada tahun 1838, tanggung jawab Sleeman diperluas hingga mencakup penindakan dacoity. Setahun kemudian, ia menciptakan istilah Megpunnaism untuk merujuk pada pembunuhan orang tua miskin demi memperoleh anak-anak mereka untuk dijual, yang ia gambarkan sebagai bentuk baru thuggee.[109][110] Setelah Departemen Thuggee dan Dacoity gagal menerapkan peraturan anti-thuggee terhadap komunitas pengembara dan kelompok-kelompok pengemis agama, Sleeman pada tahun 1839 menyatakan bahwa thuggee sebagai sebuah organisasi pada dasarnya telah dimusnahkan, yang menandai berakhirnya kampanye tersebut.[111][112] Sebanyak 4.224 orang dinyatakan bersalah sebagai Thug antara tahun 1826 dan 1847.[9] Antara sekitar tahun 1826 dan 1841, persidangan perkara thuggee memiliki tingkat penghukuman sebesar 98,9%.[113]

Dampak dan warisan
Sebuah lukisan yang menggambarkan tempat peristirahatan di dekat kuil Ganesh
The Thugs of India: Halt at the Shrine of Ganesh karya August Schoefft, ca 1841. Lukisan tersebut menggambarkan seorang Sikh (tengah kiri) yang diperdaya oleh para Thug, sementara sebuah pembunuhan akan segera terjadi.[114]

Kampanye Anti-Thuggee pada dekade 1830-an menjadi cikal bakal birokrasi kepolisian terpusat yang berkembang pada masa Kemaharajaan Britania setelah Pemberontakan India 1857.[115] Kampanye tersebut juga membentuk kerangka terbatas bagi sistem kepolisian dan pengawasan yang mencakup seluruh India, serta menjadi salah satu peristiwa awal ketika kajian mengenai kriminalitas diakui dan dimanfaatkan sebagai bagian dari pemerintahan kolonial.[115][116] Pada tahun 1839, Philip Meadows Taylor menerbitkan novel Confessions of a Thug, yang sebagian besar materinya diambil dari tulisan-tulisan Sleeman dan turut memopulerkan citra para Thug.[25] Setelah itu, thuggee menjadi sensasi pada era Victoria, bahkan Ratu Victoria sendiri meminta salinan proof cetak buku Taylor sebelum diterbitkan.[117] Terbitnya Confessions of a Thug melahirkan suatu tradisi sastra, yang kemudian diikuti oleh penulis-penulis seperti Eugène Sue melalui novel The Wandering Jew (1844) dan Mark Twain melalui bukunya Following the Equator (1897).[23] Thuggee kemudian berkembang menjadi citra ikonis dalam kisah-kisah kolonial dan karya fiksi, sementara para sejarawan dalam tradisi kolonial secara khusus menjadikan kampanye anti-thuggee sebagai bukti untuk membenarkan rekam jejak pemerintahan Perusahaan Hindia Timur Britania.[23]

Pada dekade 1840-an, Departemen Thuggee dan Dacoity mengalihkan perhatiannya kepada komunitas-komunitas yang dianggap sebagai "dacoit turun-temurun". Melalui Act XXIV Tahun 1843, ketentuan dalam Undang-Undang Thuggee Tahun 1836 diperluas sehingga juga mencakup "dacoit profesional".[118][119] Sejak dekade 1860-an, kegiatan departemen tersebut dibatasi pada penanganan kejahatan lintas perbatasan, dan lembaga itu akhirnya dibubarkan sebagai badan khusus yang beroperasi di wilayah India Britania.[120][121] Kampanye-kampanye kepolisian yang kemudian dijalankannya mengkriminalisasi komunitas-komunitas yang berkaitan dengan praktik penyerbuan dan perlindungan, yang sebelumnya berfungsi sebagai bentuk kepolisian pribumi.[122] Arsip Departemen Thuggee dan Dacoity berulang kali dijadikan bukti untuk mendukung keberadaan "suku kriminal", dan departemen tersebut memainkan peran penting dalam membangun narasi mengenai wabah kejahatan yang dilakukan oleh komunitas-komunitas pengembara dan semi-nomaden.[123][124] Hal ini mencapai puncaknya dengan disahkannya Undang-Undang Suku Kriminal (CTA) pada tahun 1871, sementara departemen tersebut untuk sementara waktu juga diberi tanggung jawab mengawasi pelaksanaannya.[125][121] Pada tahun 1904, Departemen Thuggee dan Dacoity digantikan oleh Departemen Intelijen Kriminal.[126] Bahkan hingga dekade 1940-an, kantor Biro Intelijen di Shimla masih disebut oleh para penarik becak tarik sebagai "Thagi Daftar" ("Kantor Thuggee").[127] CTA dicabut pada tahun 1949, dan suku-suku tersebut secara resmi "dikeluarkan dari daftar" pada tahun 1952 melalui pemberlakuan Undang-Undang Pelaku Kejahatan Berulang.[128]

Penilaian historis

Sumber dan historisitas

Sebagian besar sumber primer mengenai thuggee ditulis oleh Sleeman dan rekan-rekannya, baik dalam bentuk karya yang diterbitkan maupun manuskrip yang tersimpan di arsip Perusahaan Hindia Timur Britania. Akibatnya, para sejarawan hanya memiliki sangat sedikit sumber alternatif untuk mengonfirmasi, menyeimbangkan, ataupun menyangkal sumber-sumber kolonial tersebut.[129][130][131] Penggambaran thuggee pada masa kolonial mulai mendapat kritik akademis sejak dekade 1950-an.[131] Di kalangan sejarawan kontemporer terdapat konsensus umum yang menolak penggambaran thuggee sebagai sebuah persaudaraan para pencekik ritual yang mempersembahkan korbannya kepada Kali.[132] Para sarjana pada umumnya sepakat bahwa penggambaran Sleeman, yang didasarkan pada wawancaranya dengan para approver, dipengaruhi oleh prasangka dan salah tafsir yang berkembang pada zamannya.[133] Sejarawan seperti Hiralal Gupta, Stewart N. Gordon, Christopher Bayly, Martine van Woerkens, Radhika Singha, Kim A. Wagner, dan Mike Dash berupaya mengkaji kembali sumber-sumber tersebut untuk merevisi penggambaran thuggee pada masa kolonial yang dibuat oleh Sleeman. Sebagian besar dari mereka memandang para Thug sebagai penjahat biasa, atau melihat thuggee sebagai salah satu bentuk perampokan.[131][134] Meskipun sejarawan Tom Lloyd tidak menolak pendekatan tersebut, ia mengkritik anggapan bahwa sumber-sumber itu menyimpan suatu kebenaran yang hanya menunggu untuk diungkap, dan berpendapat bahwa sumber-sumber tersebut hanya dapat digunakan untuk meneliti bagaimana thuggee direpresentasikan.[135]

Pakar sastra Amal Chatterjee menggambarkan representasi kolonial mengenai thuggee sebagai "sebuah fiksi yang melayani seluruh kepentingan kekuasaan Britania di India", karena memberikan bukti yang dianggap meyakinkan tentang keunggulan moral "orang Eropa yang maju" atas "orang India yang primitif", sekaligus dipresentasikan sebagai kemenangan iman Kristen atas tradisi India.[136] Sanjay Subrahmanyam mencatat bahwa pemerintahan Perusahaan Hindia Timur Britania di India telah mendapat kecaman di negeri asalnya dari tokoh-tokoh seperti Adam Smith dan Edmund Burke, lalu menempatkan thuggee dalam konteks tanggapan Perusahaan yang berupaya membangun citra keunggulan moral serta legitimasi untuk memerintah.[137] Van Woerkens menunjukkan bahwa thuggee memungkinkan pihak Britania merumuskan kembali hubungan mereka dengan negara-negara pribumi.[138] Wagner menggambarkan peristiwa-peristiwa pada dekade 1830-an sebagai sebuah kepanikan moral dan berpendapat bahwa thuggee kemudian terkait erat dengan kebutuhan untuk melegitimasi perluasan negara kolonial.[139] Sejarawan Parama Roy berpendapat bahwa wacana kolonial mengenai thuggee sangat bersifat merujuk pada dirinya sendiri; berbagai perbedaan dalam kesaksian para approver dihaluskan, sementara para approver didorong untuk mengukuhkan pengetahuan resmi mengenai thuggee.[140]

Wagner berpendapat bahwa meskipun representasi kolonial tidak dapat diterima begitu saja sebagai fakta, representasi tersebut juga bukan sepenuhnya rekaan. Menurutnya, karena catatan-catatan itu memuat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para pejabat Britania, para sejarawan dapat mengenali sekaligus menilai berbagai bias yang terkandung di dalamnya.[141] Alexander Lyon Macfie menyimpulkan bahwa, meskipun apa yang disebut sebagai "arsip thuggee" sebagian merupakan konstruksi Orientalis, arsip tersebut secara umum tetap akurat dalam penyajiannya terhadap sebagian besar fakta.[142][143] Wagner dan Dash menunjuk pada konsistensi di antara laporan-laporan independen paling awal mengenai thuggee sebagai bukti bahwa fenomena tersebut memang memiliki dasar dalam realitas sosial.[144][5] Van Woerkens berpendapat bahwa argot Ramasee yang tercatat sebagai bahasa para Thug menempatkan mereka dalam suatu "realitas yang konkret".[145] Dash juga menyoroti upaya pihak Britania untuk mengisolasi para approver agar tidak saling berhubungan, serta penemuan jenazah-jenazah yang berhasil digali kembali.[5][p] Wagner mengutip besarnya volume informasi yang dikumpulkan oleh para pejabat Britania—yang tidak berkaitan dengan proses hukum—sebagai bukti bahwa thuggee bukan semata-mata proyek kolonial untuk memperoleh legitimasi atau mengukuhkan kendali atas rakyat India.[139]

Revisionisme sejarah

Para sejarawan pada umumnya menerima bahwa thuggee—yang secara longgar didefinisikan sebagai berbagai aktivitas dari beragam kelas sosial dan komunitas yang kemudian dilekati dengan istilah tersebut—kemungkinan besar berkaitan dengan kebijakan Perusahaan Hindia Timur Britania sejak akhir abad ke-18 hingga dekade 1830-an.[147] Sebagian besar sarjana menempatkan thuggee dalam konteks kekacauan politik dan disrupsi sosial-ekonomi yang menyertai kemunduran Kesultanan Mughal, yang semakin diperparah oleh meluasnya kekuasaan Britania.[148] Berdasarkan teori yang pertama kali dikemukakan oleh Gupta pada tahun 1959, sejarawan seperti Wagner, Singha, dan Dash berpendapat bahwa banyak Thug merupakan bekas prajurit yang kehilangan pekerjaan akibat menyusutnya pasar tenaga kerja militer sebagai dampak dari ekspansi Britania dan pembubaran pasukan tetap pribumi melalui sistem aliansi subsidi.[149][150][151] Wagner berpendapat bahwa para bekas prajurit tersebut, yang sering kali menerima jarahan sebagai imbalan, pada dasarnya hanya melanjutkan gaya hidup predator mereka.[152] Singha menduga bahwa perampokan jalan raya kemungkinan dipraktikkan oleh kelompok-kelompok tentara bayaran yang berpindah-pindah dari satu majikan ke majikan lain, lalu berubah menjadi mata pencaharian tetap ketika kesempatan kerja di bidang militer semakin berkurang.[153]

Wagner pada akhirnya mendukung pandangan Halhed mengenai hakikat para Thug. Menurutnya, mereka "tidak lebih dari salah satu jenis perampok ... yang lebih tepat dipahami dalam konteks perampokan daripada sebagai suatu sekte agama atau entitas yang menyerupai kasta".[154] Ia menilai bahwa thuggee dapat dibedakan dari bentuk-bentuk perampokan lainnya melalui perpaduan antara kerahasiaan, tipu daya, dan pembunuhan terhadap korban.[155] Wagner juga menyimpulkan bahwa thuggee merupakan fenomena yang telah berlangsung lama sebelum berdirinya pemerintahan kolonial Britania, serta bahwa tidak pernah ada satu arketipe Thug yang benar-benar mewakili keseluruhannya.[156] Ia juga menggambarkan Sleeman sebagai seorang "ahli mempromosikan diri", dan berpendapat bahwa keberhasilan kampanyenya lebih banyak bertumpu pada operasi-operasi anti-thuggee awal pada periode 1809–1812 daripada pada inisiatif atau kejeniusannya sendiri.[157]

Dash menilai bahwa ciri yang membedakan para Thug adalah bahwa mereka selalu membunuh korbannya sebelum merampok mereka.[5] Ia memperkirakan sebanyak 3.000 orang menggantungkan sebagian mata pencaharian mereka pada thuggee, serta menggambarkan teknik-tekniknya sebagai "suatu sistem pembunuhan yang tiada bandingannya".[158] Dash menduga bahwa thuggee mencapai puncaknya pada dekade 1820-an setelah bubarnya kelompok-kelompok Pindari dan dibubarkannya angkatan darat Maratha. Ia juga menghubungkan perkembangan tersebut dengan kesulitan ekonomi akibat bencana kelaparan yang berulang serta tingginya sewa tanah yang dipungut oleh Perusahaan Hindia Timur Britania untuk menutup biaya Perang Pindari dan Maratha.[159] Ia berpendapat bahwa bencana-bencana kelaparan pada akhir abad ke-18, meskipun lebih menghancurkan daripada depresi ekonomi pada dekade 1820-an, kemungkinan justru mendorong lebih sedikit orang untuk beralih menjadi perampok karena pada masa itu masih tersedia banyak kesempatan bekerja di bidang militer.[160] Dash juga menyatakan bahwa thuggee tidak dapat dianggap sebagai bentuk kejahatan terorganisasi dalam pengertian modern, sebab para Thug tidak memiliki organisasi pusat maupun hierarki yang rumit.[33] Ia juga mencatat bahwa, meskipun persidangan perkara thuggee tidak memenuhi standar hukum masa kini—terutama dalam hal hak untuk didampingi penasihat hukum—pada masa itu ribuan orang di India, Eropa, dan Amerika Serikat dijatuhi hukuman atas pembunuhan berdasarkan bukti yang jauh lebih sedikit.[5] Berbeda dengan perkiraan pada masa kolonial yang mencapai satu juta korban, Dash memperkirakan jumlah orang yang terbunuh akibat thuggee kemungkinan tidak lebih dari 50.000 hingga 100.000 jiwa.[161]

Sebaliknya, Van Woerkens, yang pada tahun 2002 menulis monograf akademis pertama mengenai thuggee,[162] mengemukakan teori bahwa para Thug pada mulanya memang merupakan penyembah Kali yang sesungguhnya, tetapi konstruksi keagamaan mereka lambat laun mengalami keruntuhan, sementara identitas komunitas mereka terpecah akibat penyebaran geografis.[163] Van Woerkens menduga bahwa para Thug mungkin berasal dari kalangan Banjara, Pindari, dan Naga, yang mata pencahariannya terganggu akibat penaklukan Britania.[164] Ia mendasarkan penafsirannya pada penyelidikan terhadap etimologi dalam bahasa Ramasee serta analisis atas berbagai wacana mengenai thuggee.[165][166] Meskipun bukunya dipandang sebagai karya yang didasarkan pada penelitian yang mendalam[25] dan penjelasannya mengenai perkembangan representasi kolonial mendapat pujian,[167] karyanya juga menuai kritik dari sejumlah sarjana yang menganggapnya "ketinggalan zaman dan tidak konsisten".[137][168][169]

Gordon memandang para Thug sebagai kelompok perampok yang memberikan pemasukan kepada para tuan tanah, sedangkan Bayly dan Singha melihat mereka sebagai para bandit tanpa modus operandi yang pasti.[131] Bayly berpendapat bahwa reaksi awal Britania dipicu oleh suatu "kepanikan informasi", yakni ketika pemerintahan kolonial yang baru merasa khawatir karena minimnya pengetahuan mereka mengenai penduduk India sekaligus mencurigai bahwa masyarakat setempat sengaja menyembunyikan informasi.[170] Van Woerkens menggambarkan representasi thuggee pada masa kolonial sebagai proyeksi rasa takut dan kecemasan Britania akibat prospek memerintah suatu bangsa yang hampir tidak mereka kenal.[171] Menurut Wagner, sejumlah pejabat "jelas" memanfaatkan kekhawatiran pemerintah terhadap thuggee untuk memperoleh kewenangan yang lebih besar, sementara oportunisme Sleeman hanyalah bagian dari kecenderungan yang lebih luas, yang kemudian ia sempurnakan.[73]

Budaya dan kepercayaan

Metode

Seseorang mencekik korban yang sedang meronta dari belakang sementara orang lain bergegas membantu
Penggambaran Thug yang mencekik seorang pengelana pada abad ke-19[172]
Seseorang membungkuk di atas tubuh seseorang yang telungkup sambil melilitkan kain di lehernya, sementara dua orang lainnya menahan tubuh dan kaki korban dalam adegan rekonstruksi
Foto para Thug yang telah ditangkap, kemungkinan diambil pada tahun 1858, sedang memperagakan metode pencekikan mereka sebagaimana kadang-kadang diminta untuk diperlihatkan kepada wisatawan Barat[173][174]

Kelompok-kelompok thug melakukan ekspedisi musiman yang berlangsung selama berbulan-bulan, biasanya berangkat pada bulan Kartika setelah panen musim gugur dan kembali sekitar bulan Asharh pada awal musim hujan.[175] Sasaran utama thuggee meliputi sepoy, prajurit penguasa pribumi, para pedagang, serta peziarah Hindu dan Muslim.[176] Konon tidak ada orang Eropa yang menjadi korban thuggee.[177] Para Thug lazimnya menyusup ke dalam rombongan pengelana dengan dalih saling memberikan perlindungan. Mereka menyamar dalam berbagai wujud, seperti prajurit yang sedang mencari pekerjaan, pedagang, pengemis, orang kaya, Brahmana, sepoy, pandit, ataupun pengelana biasa.[178] Para Thug lebih memilih korban yang kaya dan menggunakan mata-mata untuk mengumpulkan informasi mengenai para pengelana serta memastikan apakah jalan yang akan dilalui aman dari gangguan.[179][180]

Menurut kesaksian Hussain, praktik thuggee pada umumnya dilakukan dengan mencekik korban menggunakan saputangan yang diikat simpul pada salah satu ujungnya sebagai pegangan, sementara sebelumnya para Thug menggunakan tali atau benang pintal.[181] Penggambaran thuggee pada masa kolonial menyatakan bahwa berbagai tugas dalam aksi tersebut—seperti memegang tangan korban—merupakan peran-peran khusus yang telah dibagi di antara anggota kelompok.[182] Para Thug kadang mencekik korban pada malam hari, atau membangunkan mereka dengan berpura-pura mengatakan bahwa fajar hampir tiba, lalu membawa mereka ke tempat terpencil di tepi jalan.[179] Mereka juga terkadang memberikan biji Datura kepada korban agar tidak berdaya sebelum dibunuh.[183][184] Selain itu, para Thug kerap membunuh korban menggunakan pedang, pisau, atau racun, kemudian membuang mayat mereka ke dalam sumur atau nullah, atau menguburkannya di lubang yang digali dengan beliung.[181] Menjelang paruh kedua abad ke-19, citra populer mengenai para Thug menggambarkan mereka sebagai pembunuh yang selalu mencekik korbannya tanpa pernah menumpahkan darah.[185] Dash mencatat bahwa para Thug tidak keberatan menumpahkan darah setelah korbannya meninggal. Ia mengaitkan kecenderungan memilih pencekikan dengan mazhab Mazhab Hanafi dalam fikih Islam yang berlaku luas di India Mughal, yang memperlakukan pembunuhan dengan senjata (yang umumnya melibatkan pertumpahan darah) sebagai tindak pidana yang lebih berat.[186] Sebaliknya, pelaku pencekikan dijatuhi hukuman cambuk, penjara, dan diwajibkan membayar uang darah kepada keluarga korban.[186]

Tidak ada saksi mata karena para Thug membunuh seluruh anggota rombongan. Bukti tidak langsung pun sangat sedikit karena pembunuhan dilakukan secara diam-diam, sementara benda-benda umum seperti rumāl, syal, dhoti, atau tali mudah ditemukan pula pada pengelana yang tidak bersalah.[187] Tercatat pula bahwa para Thug terkadang menikam mata korban untuk mencegah mereka dikenali atau untuk memastikan bahwa korban benar-benar telah meninggal.[188][101][q] Wagner menggambarkan thuggee sebagai tindakan yang "sangat mendekati 'kejahatan sempurna'", seraya mencatat bahwa biayanya yang rendah membuat praktik tersebut dapat dilakukan oleh berbagai kalangan.[155] Undang-Undang Thuggee 1836 kemudian digunakan pula untuk menuntut pelaku perdagangan anak dan perampok yang meracuni korbannya. Di tengah kontroversi mengenai yurisdiksi Departemen Thuggee dan Dacoity, thuggee didefinisikan dalam Undang-Undang III Tahun 1848 mencakup peracunan sebagai salah satu bentuk thuggee, meskipun tidak selalu berakibat fatal, serta "penculikan anak".[190]

Kepercayaan agama

Sketsa sejumlah orang yang sedang beribadah di hadapan sebuah patung yang dihiasi kalung tengkorak
Penggambaran para Thug yang memuja Kali dalam sebuah majalah misionaris sekolah Minggu, ca 1850[191]

Kesaksian para Thug yang dihimpun pada dekade 1830-an memuat uraian mengenai ritual dan upacara yang mereka jalankan selama ekspedisi mereka.[192] Dalam wawancara tersebut, rekan Sleeman, Kapten James Paton, secara khusus memusatkan perhatian pada orientasi keagamaan para Thug dengan mengajukan pertanyaan menjerat yang didasarkan pada filsafat Kristen.[193] Ketika melakukan wawancara, Sleeman dan Paton terutama tertarik pada pemujaan dewi oleh para Thug, kepatuhan mereka terhadap berbagai aturan dan pertanda, serta perbedaan adat istiadat di antara berbagai kelompok.[194] Wagner berpendapat bahwa "ketertarikan yang sangat besar" mereka terhadap persoalan agama "sangat mungkin" memengaruhi cara para approver membahas identitas mereka sendiri.[194] Arti penting agama dalam thuggee dipandang berbeda oleh sejarawan revisionis dan sejarawan yang mengikuti tradisi kolonial. Perbedaan ini tercermin dalam pertanyaan yang diajukan Jorge Luis Borges pada tahun 1923 setelah membaca Confessions of a Thug: "Apakah para Thug adalah perampok yang menguduskan profesinya melalui kultus dewi [Bhavani], ataukah justru kultus Dewi [Bhavani] yang mengubah mereka menjadi perampok?"[195]

Para Thug memuja berbagai perwujudan Devi, dengan Bhavani merupakan nama yang paling sering disebut, yang mencerminkan beragam tradisi.[196] Para approver sendiri tidak pernah menyebut Kali dalam sumber-sumber tersebut; satu-satunya penyebutan berasal dari komentar Sleeman sendiri.[197] Menurut Wagner dan van Woerkens, mereka meyakini bahwa tindakan mereka mendapat restu dari Sang Dewi.[156][198] Meskipun pihak Inggris terpesona oleh kenyataan bahwa umat Muslim memuja dewa-dewi Hindu, sinkretisme agama merupakan hal yang lazim di India.[199] Menurut Cynthia Ann Humes, kesaksian para Thug hanya jarang merujuk kepada Bhavani, umumnya sebagai tanggapan atas pertanyaan yang mengarahkan dari Sleeman, sedangkan yang paling sering muncul justru adalah konsep takdir dalam Islam.[200] Sejumlah approver Muslim meninggalkan Bhavani setelah menjadi saksi mahkota, dengan mengidentifikasikannya sebagai Fatimah atau sebagai alat Allah, sehingga tetap mempertahankan keyakinan mereka terhadap monoteisme.[199] Dalam wawancara dengan Paton, approver Muslim menggambarkan Bhavani sebagai "hanya untuk thuggee", sementara yang lain menyebutnya sebagai "pelindung utama profesi itu".[201] Sleeman memperkirakan bahwa sekitar sepertiga anggota Thug beragama Islam.[202]

Gambar pensil berwarna yang memperlihatkan tiga buah dadu di samping beberapa benda lain sebagai pembanding ukuran
Sketsa The Thugs Dice yang dihadiahkan kepada Fanny Parkes oleh seorang magistrat pada Oktober 1830. Menurut Parkes, dadu tersebut digunakan selama ekspedisi thuggee untuk menentukan hari-hari yang membawa keberuntungan atau kesialan.[203]

Para Thug juga memiliki sebuah mitos mengenai asal-usul ilahi mereka yang didasarkan pada kisah dalam Devi Mahatmya, ketika Kali bertarung melawan raksasa Raktabīja dengan bantuan sekelompok dewi yang disebut Matrika. Dalam versi para Thug, mereka menggantikan peran para Matrika, dan para raksasa terakhir dikalahkan melalui pencekikan.[204] Sleeman menyatakan bahwa mitos tersebut mengisahkan "Kalee Davey" sebagai pencipta leluhur para Thug.[204] Para Thug memakan goor yang telah dikonsekrasi sebagai penghormatan kepada Devi dan mempersembahkan sesaji kepadanya sebelum memulai ekspedisi.[205][206] Akan tetapi, Feringheea, approver favorit Sleeman, secara tegas membantah bahwa para Thug memiliki hubungan khusus dengan kuil-kuil dan para pendeta Devi dalam percakapan yang diterbitkan dalam buku Sleeman tahun 1836 Ramaseeana, yang oleh Wagner disebut sebagai "kanon wacana kolonial mengenai thuggee".[207] Mereka juga mematuhi berbagai pertanda; sebuah pertanda buruk, seperti suara kelinci, sudah cukup untuk membatalkan rencana pembunuhan.[208][209]

Richard Sherwood, penulis karya ilmiah pertama mengenai thuggee yang berasal dari Kepresidenan Madras pada tahun 1816, merupakan orang pertama yang mengaitkan fenomena tersebut dengan agama.[210][211] Sherwood menggambarkan para phansigar sebagai kelompok yang sangat percaya takhayul. Meskipun sebagian di antaranya beragama Islam, mereka menganggap "Cali atau Mariatta" sebagai dewa pelindung mereka.[212] Dalam upayanya menunjukkan bahwa peraturan yang berlaku pada tahun 1818 tidak memadai, asisten Perry membuat rujukan paling awal yang diketahui di India Utara mengenai unsur keagamaan dalam thuggee. Ia menyatakan bahwa mereka "memuja dan mengorbankan seekor kambing untuk memperoleh perlindungan baik dari dewa pelindung mereka".[213] Menjelang awal dekade 1830-an, unsur-unsur keagamaan dalam thuggee telah disensasikan oleh Sleeman dan dijadikan fokus utama.[156]

Menurut Wagner dan Singha, keyakinan serta praktik keagamaan para pelaku thuggee pada dasarnya merupakan bagian dari tradisi yang juga umum dijumpai di kalangan masyarakat luas.[196][214] Wagner menyatakan bahwa "perampok yang tidak memuja dewa pelindung, tidak melaksanakan puja, atau tidak memiliki keyakinan tertentu mengenai legitimasi moral atas tindakan mereka justru akan menjadi sesuatu yang benar-benar luar biasa dalam konteks India".[215] Singha berpendapat bahwa para pejabat penyelidik Departemen Thuggee "sebenarnya sedang mengenal agama dan budaya rakyat, tetapi melalui prisma kriminalitas".[214] Dash juga menyimpulkan bahwa motif di balik thuggee bukanlah motif keagamaan, dan menyatakan bahwa keyakinan para Thug lebih dekat dengan cerita rakyat daripada suatu agama yang berdiri sendiri.[216] Wagner mencatat bahwa para dacoit biasa, yang tidak pernah dianggap memiliki motif keagamaan, juga mempersembahkan sesaji dan melaksanakan puja sebelum maupun sesudah melakukan perampokan.[196] Dengan menarik perbandingan terhadap kajian Carlo Ginzburg mengenai benandanti di Italia modern awal, Wagner berpendapat bahwa perhatian Sleeman dan Paton terhadap agama telah mendistorsi fenomena para perampok jalan raya tersebut.[194] Ia menduga bahwa dorongan utama di balik thuggee kemungkinan besar tidak ada kaitannya dengan agama, sementara pihak Inggris justru tertarik pada makna ritual dan keagamaan yang dilekatkan para Thug pada tindakan mereka demi memperoleh legitimasi serta status moral maupun sosial.[217][r]

Sekelompok orang di sebuah tanah lapang dalam hutan berkumpul mengelilingi tumpukan barang berharga
Penggambaran para Thug bersama hasil rampasan mereka, abad ke-19.[219] Menurut Dash, hasil rampasan thuggee umumnya dibagi di antara banyak anggota kelompok, sehingga sebagian besar Thug memperoleh keuntungan yang sangat sedikit dari setiap ekspedisi.[220]

Berbeda dengan pandangan tersebut, van Woerkens—berdasarkan wawancara ketika para Thug ditanya mengapa mereka akan dihukum gantung jika memang mendapat perlindungan ilahi—menyimpulkan bahwa para Thug pada mulanya benar-benar merupakan penganut Shakta, tetapi sistem keyakinan internal mereka kemudian runtuh akibat "nafsu yang tak terbatas terhadap harta rampasan".[s] Menurut teorinya, hal tersebut menyebabkan pencarian mereka akan keselamatan berubah dari tindakan kekerasan yang dikendalikan secara ritual menjadi kejahatan massal, sehingga barang-barang yang mereka rampas tidak lagi dipandang sebagai imbalan ilahi atas korban persembahan.[223] Wagner mengkritik van Woerkens karena telah membongkar konstruksi kolonial mengenai thuggee, tetapi pada akhirnya justru membangunnya kembali dengan bertumpu pada narasi Sleeman sendiri.[224]

Kedudukan dalam masyarakat dan adat istiadat

Para zamindar dan raja setempat memelihara Thug sebagai bagian dari pengiring mereka dengan imbalan sebagian hasil rampasan atau sebagai tentara bayaran. Praktik ini merupakan bagian dari fenomena yang lebih luas dan telah terlembagakan, yang juga mencakup kazak serta kelompok perampok lainnya.[225][t] Menurut daroga Sindouse pada tahun 1810, penduduk setempat mencari nafkah dengan menggarap tanah selama delapan bulan dalam setahun, sedangkan pada sisa waktunya mereka berdagang kuda atau melakukan thuggee.[227] Seorang patwari dari Parihara menyatakan pada tahun 1812 bahwa Thug telah menetap di wilayah tersebut selama beberapa generasi dan tidak pernah mengolah tanah, melainkan membawa pulang barang-barang berharga dari ekspedisi mereka. Ia juga menyatakan bahwa para zamindar setempat mengurus keluarga mereka selama mereka pergi serta memperoleh bunga dari pinjaman yang diberikan kepada para Thug.[228] Para Thug juga lazim dan saling menyebut diri mereka maupun disebut oleh sesama warga desa sebagai sepoy (yang berarti 'prajurit' atau 'pengikut'), serta meminjam istilah militer dengan menggunakan jemadar untuk menyebut pemimpin gerombolan dan subedar ketika beberapa kelompok bergabung menjadi satu.[229][230] Alih-alih membentuk suatu "kontra-masyarakat ... yang sepenuhnya terpisah dari masyarakat menetap yang 'taat hukum'", Wagner berpendapat bahwa hubungan antara gerombolan thuggee dengan berbagai komunitas menunjukkan adanya sebuah "dunia bawah kelana" yang longgar, terdiri atas jaringan kriminal yang saling bertumpang tindih.[154]

Para Thug umumnya menyelamatkan anak-anak korban mereka, dan banyak di antaranya kemudian diadopsi.[231] Anak perempuan dinikahkan dengan putra atau kerabat orang yang mengadopsinya sehingga terhindar dari biaya mahar. Menurut Wagner, anak laki-laki cenderung diberikan kepada pasangan yang tidak memiliki anak, dalam konteks tingginya angka kematian bayi.[231] Dash menyatakan bahwa mereka dimanfaatkan oleh ayah angkat mereka untuk memperoleh bagian rampasan tambahan, dan menunjukkan bahwa pejabat Britania terkadang menyebut anak-anak angkat tersebut sebagai "budak".[232] Namun, Thug tidak selalu membiarkan anak-anak tetap hidup, dan menurut Wagner hanya Thug yang cukup berada serta memiliki basis tempat tinggal yang aman yang biasanya mengadopsi mereka.[231][233] Para informan Paton, seperti Buhram, memandang diri mereka lebih tinggi daripada pencuri biasa.[234] Wagner menyatakan bahwa para Thug memandang diri mereka, dan ingin dipandang orang lain, sebagai "kesatria-gentleman" yang memiliki kode kehormatan menyerupai golongan Kshatriya, yang terinspirasi oleh etos keprajuritan para tuan tanah Rajput setempat.[235] Adat atau takhayul Thug melarang mereka membunuh perempuan maupun anggota kasta-kasta rendah tertentu, meskipun menurut Dash larangan tersebut tidak selalu dipatuhi secara ketat.[204][236]

Hasil pemindaian halaman sebuah buku
Halaman judul buku Ramaseeana edisi tahun 1836[237]

Para Thug menggunakan argot kriminal yang disebut Ramasee, yang dihimpun Sleeman dari wawancara dengan lebih dari selusin Thug untuk karyanya pada tahun 1836, Ramaseeana.[238] Sleeman memandang "bahasa khas" tersebut sebagai kunci untuk mengungkap thuggee dan mengumpulkan kosakatanya dengan tujuan menunjukkan bahwa para Thug diatur secara ketat oleh ritual, aturan, dan pertanda yang tetap.[238] Sherwood juga telah menerbitkan pada tahun 1816 daftar berisi 57 "istilah dan ungkapan slang" yang diperoleh dari para phansigar yang dipenjarakan di Madras, dan 20 di antaranya juga muncul dalam kosakata yang dihimpun Sleeman dari para Thug di India utara dan tengah.[239][240]

Para Thug menggunakan argot tersebut untuk berkomunikasi di hadapan korban mereka, mengenali sesama Thug, serta mendefinisikan identitas dan status.[241] Argot itu bekerja dengan memberikan makna kedua pada kata atau ungkapan yang sudah dikenal agar tidak menimbulkan kecurigaan, misalnya menggunakan Tumbakoolao ('bawakan tembakau') sebagai isyarat untuk memulai pembunuhan.[242] Argot serupa digunakan oleh banyak kelompok lain di India pada abad ke-19 sebagai lingua franca bagi dunia bawah kelana dan komunitas perdagangan, sehingga Wagner berpendapat bahwa Ramasee bukanlah bahasa yang eksklusif digunakan oleh para Thug.[243] Wagner membantah anggapan bahwa Ramasee dapat dianggap sebagai sebuah bahasa, atau bahkan sebagai argot yang baku, dan menyatakan bahwa bahasa tersebut juga digunakan oleh para pedagang, pesulap jalanan, dan pedagang keliling.[244]

Kedudukan dalam masyarakat dan adat istiadat

Para zamindar dan raja setempat memelihara Thug sebagai bagian dari pengiring mereka dengan imbalan sebagian hasil rampasan atau sebagai tentara bayaran. Praktik ini merupakan bagian dari fenomena yang lebih luas dan telah terlembagakan, yang juga mencakup kazak serta kelompok perampok lainnya.[225][u] Menurut daroga Sindouse pada tahun 1810, penduduk setempat mencari nafkah dengan menggarap tanah selama delapan bulan dalam setahun, sedangkan pada sisa waktunya mereka berdagang kuda atau melakukan thuggee.[227] Seorang patwari dari Parihara menyatakan pada tahun 1812 bahwa Thug telah menetap di wilayah tersebut selama beberapa generasi dan tidak pernah mengolah tanah, melainkan membawa pulang barang-barang berharga dari ekspedisi mereka. Ia juga menyatakan bahwa para zamindar setempat mengurus keluarga mereka selama mereka pergi serta memperoleh bunga dari pinjaman yang diberikan kepada para Thug.[228] Para Thug juga lazim dan saling menyebut diri mereka maupun disebut oleh sesama warga desa sebagai sepoy (yang berarti 'prajurit' atau 'pengikut'), serta meminjam istilah militer dengan menggunakan jemadar untuk menyebut pemimpin gerombolan dan subedar ketika beberapa kelompok bergabung menjadi satu.[229][230] Alih-alih membentuk suatu "kontra-masyarakat ... yang sepenuhnya terpisah dari masyarakat menetap yang 'taat hukum'", Wagner berpendapat bahwa hubungan antara gerombolan thuggee dengan berbagai komunitas menunjukkan adanya sebuah "dunia bawah kelana" yang longgar, terdiri atas jaringan kriminal yang saling bertumpang tindih.[154]

Para Thug umumnya menyelamatkan anak-anak korban mereka, dan banyak di antaranya kemudian diadopsi.[231] Anak perempuan dinikahkan dengan putra atau kerabat orang yang mengadopsinya sehingga terhindar dari biaya mahar. Menurut Wagner, anak laki-laki cenderung diberikan kepada pasangan yang tidak memiliki anak, dalam konteks tingginya angka kematian bayi.[231] Dash menyatakan bahwa mereka dimanfaatkan oleh ayah angkat mereka untuk memperoleh bagian rampasan tambahan, dan menunjukkan bahwa pejabat Britania terkadang menyebut anak-anak angkat tersebut sebagai "budak".[232] Namun, Thug tidak selalu membiarkan anak-anak tetap hidup, dan menurut Wagner hanya Thug yang cukup berada serta memiliki basis tempat tinggal yang aman yang biasanya mengadopsi mereka.[231][233] Para informan Paton, seperti Buhram, memandang diri mereka lebih tinggi daripada pencuri biasa.[234] Wagner menyatakan bahwa para Thug memandang diri mereka, dan ingin dipandang orang lain, sebagai "kesatria-gentleman" yang memiliki kode kehormatan menyerupai golongan Kshatriya, yang terinspirasi oleh etos keprajuritan para tuan tanah Rajput setempat.[235] Adat atau takhayul Thug melarang mereka membunuh perempuan maupun anggota kasta-kasta rendah tertentu, meskipun menurut Dash larangan tersebut tidak selalu dipatuhi secara ketat.[204][236]

Hasil pemindaian halaman sebuah buku
Halaman judul buku Ramaseeana edisi tahun 1836[245]

Para Thug menggunakan argot kriminal yang disebut Ramasee, yang dihimpun Sleeman dari wawancara dengan lebih dari selusin Thug untuk karyanya pada tahun 1836, Ramaseeana.[238] Sleeman memandang "bahasa khas" tersebut sebagai kunci untuk mengungkap thuggee dan mengumpulkan kosakatanya dengan tujuan menunjukkan bahwa para Thug diatur secara ketat oleh ritual, aturan, dan pertanda yang tetap.[238] Sherwood juga telah menerbitkan pada tahun 1816 daftar berisi 57 "istilah dan ungkapan slang" yang diperoleh dari para phansigar yang dipenjarakan di Madras, dan 20 di antaranya juga muncul dalam kosakata yang dihimpun Sleeman dari para Thug di India utara dan tengah.[239][240]

Para Thug menggunakan argot tersebut untuk berkomunikasi di hadapan korban mereka, mengenali sesama Thug, serta mendefinisikan identitas dan status.[241] Argot itu bekerja dengan memberikan makna kedua pada kata atau ungkapan yang sudah dikenal agar tidak menimbulkan kecurigaan, misalnya menggunakan Tumbakoolao ('bawakan tembakau') sebagai isyarat untuk memulai pembunuhan.[242] Argot serupa digunakan oleh banyak kelompok lain di India pada abad ke-19 sebagai lingua franca bagi dunia bawah kelana dan komunitas perdagangan, sehingga Wagner berpendapat bahwa Ramasee bukanlah bahasa yang eksklusif digunakan oleh para Thug.[243] Wagner membantah anggapan bahwa Ramasee dapat dianggap sebagai sebuah bahasa, atau bahkan sebagai argot yang baku, dan menyatakan bahwa bahasa tersebut juga digunakan oleh para pedagang, pesulap jalanan, dan pedagang keliling.[244]

Informan mahkota

Sketsa seorang pria yang dibelenggu, dikelilingi para penonton, sedang berbicara dengan penuh semangat kepada seseorang yang ditahan di bawah pengawalan. Para juru tulis mencatat keterangan di samping seorang pria Barat yang duduk.
Ilustrasi seorang informan mahkota memberikan kesaksian terhadap seorang Thug di Oudh, Illustrated London News tahun 1853[246]

Para Thug terdorong menjadi informan mahkota untuk menghindari hukuman mati. Mereka mengakui tindak pidana tertentu dan, setelah memperoleh pengampunan bersyarat, memberikan kesaksian tertulis.[247][248][249] Lebih dari 100 orang Thug diterima sebagai informan mahkota oleh Sleeman dan rekan-rekannya, dan kesaksian maupun wawancara dengan mereka menjadi sumber informasi utama bagi otoritas Britania mengenai fenomena tersebut.[250][251] Wagner mencatat bahwa agar pengakuan awal mereka diterima, para Thug harus menyesuaikan keterangan mereka dengan praduga yang telah dimiliki oleh pemeriksa mengenai perkara yang sedang diselidiki.[247]

Feringheea dikembalikan ke penjara pada tahun 1832, sementara para informan mahkota lainnya tetap berkeliling di sepanjang jalan bersama pengawal nujeeb mereka (milisi berkuda), memburu gerombolan yang mereka kenal secara pribadi.[252] Mereka memperoleh kebebasan yang lebih besar untuk sementara selama masih dianggap berguna, dan Dash menduga bahwa setidaknya sebagian dari mereka mungkin melontarkan tuduhan palsu terhadap orang-orang yang tidak bersalah demi memperpanjang keadaan tersebut, sebagaimana juga dicurigai pada masa itu.[253]

Sekolah Industri Jubbulpore

Ilustrasi berwarna seorang pria lanjut usia sedang bekerja di alat tenun bersama dua anak laki-laki, sementara seorang perempuan memintal benang tekstil dan diamati oleh seorang anak perempuan
Kromolitografi Sekolah Industri Jubbulpore karya William Simpson, diterbitkan pada tahun 1867. Sekolah Industri dipresentasikan sebagai sebuah lembaga yang inovatif.[254]
Sekelompok pria beruban duduk bersila di atas sebuah permadani
Para tahanan Thug, kemungkinan di Jubbulpore, duduk di atas permadani yang mereka buat sendiri, ca 1870[101][255]

Menjelang akhir dekade 1830-an, sebanyak 56 informan mahkota telah dikembalikan ke Penjara Pusat Jubbulpore, tempat mereka ditempatkan di sebuah rumah tahanan di luar gerbang penjara dan dipisahkan dari narapidana lainnya.[253] Meskipun pihak berwenang meyakini bahwa para informan mahkota tidak dapat direhabilitasi, Sekolah Industri Jubbulpore didirikan pada tahun 1837 sebagai sebuah manufaktur, tempat mereka beserta keluarga mereka mempelajari berbagai keterampilan kerja.[253][256] Para informan mahkota bekerja di kompleks manufaktur dan, di luar jam kerja, dikurung di sebuah penjara yang terpisah dari keluarga mereka, yang ditempatkan di sebuah desa berpagar kecil di samping manufaktur dengan pengawasan yang ketat.[257] Mereka umumnya hanya diizinkan bertemu keluarga pada waktu makan. Sebagai imbalan atas pekerjaan mereka, mereka menerima tunjangan yang, setelah dipotong biaya makanan dan pakaian, diserahkan kepada keluarga mereka.[258] Anak-anak laki-laki para informan mahkota sering bekerja bersama ayah mereka, sedangkan para perempuan membantu dalam memintal tekstil.[259] Produk pertama Sekolah Industri adalah batu bata, dan lembaga tersebut akhirnya mampu membiayai dirinya sendiri dengan menjual hasil produksinya ke pasar-pasar di Provinsi Tengah, tempat biaya mendatangkan barang dari wilayah lain sangat mahal.[260]

Belakangan, para informan mahkota diajari oleh para perajin untuk membuat tenda dan permadani, dan pada tahun 1847 mereka menghasilkan 130 buah tenda serta 3.300 yard permadani Kidderminster setiap tahun.[261] Sebuah permadani buatan para Thug dipamerkan dalam Great Exhibition tahun 1851, dan kemudian mereka membuat sebuah permadani berukuran 40 x 80 kaki (12 m × 24 m) untuk Ratu Victoria yang, hingga tahun 2005, masih dipamerkan di Waterloo Chamber di Kastel Windsor.[261] Berbagai hasil karya para Thug juga dipamerkan pada Pameran Internasional 1862 di London dan Exposition Universelle tahun 1867 di Paris.[262]

Pada tahun 1870, lembaga tersebut menampung 158 orang Thug (sebagian besar ditangkap pada dekade 1840-an dan 1850-an), 202 orang Dacoit, serta lebih dari 1.500 istri dan anak mereka.[260] Produktivitas Sekolah Industri menurun drastis seiring bertambahnya usia para Thug, dan pada tahun 1888 lembaga tersebut tidak lagi menghasilkan keuntungan.[263] Menurut Sleeman, yang mengunjungi Sekolah tersebut sebanyak tiga kali antara tahun 1843 dan 1848, para Thug pada awalnya antusias menceritakan karier kriminal mereka kepada para pengunjung. Namun, setelah kunjungan terakhirnya, ia menyatakan bahwa mereka telah merasa malu atas kehidupan masa lalu mereka.[264] Menjelang awal abad ke-20, Sekolah Industri pada praktiknya telah berhenti beroperasi dan dialihkan fungsinya menjadi sekolah pembinaan bagi pelaku kejahatan anak.[265]

Dalam budaya populer

Pada dekade 1860-an dan 1870-an, thuggee telah menjadi bagian tetap dari khazanah kolonial India dan mengilhami salah satu trope Orientalis yang paling kuat sekaligus paling bertahan lama dalam sastra dan film.[266][267] Kim A. Wagner menempatkan fenomena ini dalam konteks yang lebih luas, yakni ketertarikan eksotis terhadap Hashashin, manusia macan tutul Afrika, dukun, dan kanibal.[268] Dalam karya-karya fiksi, para Thug umumnya digambarkan sebagai sekte Timur yang menyeramkan, dipimpin oleh seorang pemimpin fanatik dan berupaya mengusir Inggris dari India.[167] Menjelang paruh kedua abad ke-19, penulis seperti Philip Meadows Taylor dan Eugène Sue telah memantapkan citra populer Thug sebagai sebuah kultus yang didorong motif keagamaan dan mengabdikan diri untuk mencekik korbannya sebagai bentuk pengurbanan manusia.[185] Pada tahun 1920, cucu Sleeman, James L. Sleeman, menerbitkan bukunya Thug: Or a Million Murders, ketika masyarakat telah secara luas meyakini bahwa para Thug membunuh 40.000 hingga 50.000 orang setiap tahun selama tujuh abad.[269][v] Penggambaran lebih lanjut terhadap stereotip ini dalam film-film abad ke-20 memastikan popularitasnya terus bertahan hingga era pascakolonial.[268] Kata thug telah masuk ke dalam penggunaan sehari-hari dalam bahasa Inggris sejak dekade 1860-an dan kini sekadar berarti seorang yang brutal atau gemar melakukan kekerasan.[23][271]

Sastra

Sampul buku yang telah memudar, menggambarkan seekor harimau menerkam seorang perempuan yang hendak diserang seseorang bersenjata pedang
Sampul Confessions of a Thug
Gambar seseorang mencekik korban yang telah roboh di tepi jalan
Ilustrasi thuggee dalam edisi tahun 1883[272]

Novel tahun 1826 Pandurang Hari, or Memoirs of a Hindoo karya William Browne Hockley kemungkinan merupakan penggambaran pertama mengenai thuggee dalam sebuah novel berbahasa Inggris. Di dalamnya, "T,hugs [sic]" digambarkan sebagai para bandit licik yang membiarkan tokoh utama beserta rekan-rekannya tetap hidup.[273][274] Novel Taylor tahun 1839 Confessions of a Thug sebagian besar didasarkan pada tulisan-tulisan Sleeman dan disajikan sebagai sebuah naskah yang ditemukan kembali berisi pengakuan Ameer Ali, seorang Thug "nyata" yang kemudian menjadi approver.[25][275] Ameer Ali menceritakan bagaimana ia diculik ketika masih kecil dan kemudian diinisiasi ke dalam kultus tersebut, sekaligus menguraikan adat-istiadat dan praktik keagamaan thuggee.[117] Sayyid Ameer Ali yang historis memberikan deposisi di hadapan Sleeman di Saugor pada tahun 1832, yang menurut Wagner hanya memiliki "kemiripan yang sangat kecil" dengan kisah versi Taylor.[144][276][277] Dengan mengambil inspirasi yang sangat longgar dari beberapa Thug historis, karya Taylor mendramatisasi wawancara-wawancara Sleeman dan, berbeda dengan penggambaran thuggee sejak akhir abad ke-19 dan sesudahnya, menampilkan para Thug secara simpatik.[278][279]

Novel berseri tahun 1844–1845 The Wandering Jew karya Eugène Sue menampilkan versi fiksi dari Feringheea sebagai pemimpin para Thug, yang digambarkan sebagai produk tirani masyarakat India dan eksploitasi para penjajah.[280] Novel tahun 1857–1858 Nena Sahib, oder: Die Empörung in Indien (Nana Sahib, atau: Pemberontakan di India) karya Hermann Goedsche menampilkan Nana Saheb bersekutu dengan para Thug sebagai reaksi terhadap keserakahan dan tirani Inggris.[281] Novel tahun 1866 Os Brâmanes (The Brahmans) karya Francisco Luís Gomes berpusat pada seorang antagonis Brahmana yang menjadi seorang Thug dan kemudian bergabung dengan para pemberontak.[282] Novel tahun 1877 Le Procès des Thugs (Pengadilan Para Thug) karya René de Pont-Jest [fr] berkisah tentang persidangan besar terhadap pemimpin Thug Feringheea, yang kemudian bersekutu dengan kaum Fenian melawan para penindas Inggris.[283]

Dalam novelnya tahun 1880, Rumah Uap, Jules Verne menggambarkan Nana Saheb ditemukan di Bundelkhand bersama para Thug, Dacoit, dan Pindari.[281] Novel tahun 1886 Kalee's Shrine karya Grant Allen dan May Cotes menampilkan tokoh utama Anglo-India yang diinisiasi menjadi seorang Thug sejak kecil, kemudian dikirim ke Inggris dalam keadaan dirasuki Kali.[284] Dalam cerita pendek Sir Arthur Conan Doyle tahun 1887, "Uncle Jeremy's Household", Miss Warrender, seorang pengasuh anak Anglo-India, diketahui sebagai putri seorang pemimpin thuggee yang menjadi yatim piatu setelah ayahnya terbunuh dalam Pemberontakan India tahun 1857.[285] Cerita pendek Bram Stoker tahun 1890, "Gibbet Hill", berpusat pada anak-anak bergaya thuggee yang menyerang seorang musafir di Inggris.[286]

Novel kedua dan keempat dalam seri Sandokan karya Emilio Salgari menampilkan para Thug sebagai tokoh antagonis. Misteri Rimba Hitam (1895) mengisahkan seorang pemburu Bengal yang melawan para Thug demi menyelamatkan perempuan yang dicintainya. Dua Harimau (1904) berlatar belakang Pemberontakan India 1857. Dalam novel tersebut, Sandokan menyelamatkan putrinya dari para Thug yang telah bergabung dengan para pemberontak melawan Inggris.[281] Novel tahun 1952 karya John Masters, The Deceivers,[287] yang kemudian diadaptasi menjadi film pada tahun 1988,[167] mengikuti kisah seorang perwira Inggris yang menyusup ke dalam kultus thuggee dan ikut serta dalam aksi-aksi thuggee.[287] Dalam novel fiksi sejarah tahun 2014 The Strangler Vine karya Miranda Carter, para tokoh utamanya menjumpai sistem Sleeman dalam merehabilitasi orang-orang yang dicurigai sebagai Thug di Jubbulpore, sebelum kemudian mulai mencurigai perlakuannya terhadap penduduk pribumi.[288][289]

Film

Poster film yang menampilkan tiga pria tertawa
Poster Gunga Din tahun 1938

Film Gunga Din (1939) merupakan penggambaran pertama tentang thuggee dalam film dan mengisahkan tiga prajurit Britania bersama seorang pengangkut air (Gunga Din) yang berhadapan dengan kebangkitan kembali sebuah sekte pemuja Thuggee. Film ini sebagian diadaptasi dari puisi Rudyard Kipling berjudul Gunga Din, serta Soldiers Three, dan ditutup dengan adegan Kipling menuliskan bait pertama puisinya setelah diselamatkan oleh ketiga tokoh utama tersebut.[268][290] Para Thug digambarkan sebagai pemuja Kali, dan klimaks film memperlihatkan pertempuran antara pasukan Britania dengan bala tentara Thug yang berusaha menggulingkan kekuasaan Britania di India.[291] Dalam film The Stranglers of Bombay (1959), seorang perwira Perusahaan Hindia Timur menyelidiki hilangnya sejumlah kafilah dan akhirnya menemukan serta menghancurkan sebuah sekte thuggee. Para Thug digambarkan bersekongkol dengan seorang kepala desa. Film tersebut diakhiri dengan kutipan yang dikaitkan dengan Sleeman: "Jika kami tidak melakukan hal lain bagi India, setidaknya kami telah melakukan satu kebaikan ini."[292]

Film karya Mario Camerini tahun 1963, Kali Yug: Goddess of Vengeance dan The Mystery of the Indian Temple, menampilkan Klaus Kinski sebagai pemimpin sekte thuggee.[293][294] Dalam film Help! (1965), The Beatles berhadapan dengan sebuah sekte India kuno pemuja "Kahili", yang merupakan parodi atas penggambaran thuggee dalam karya-karya sebelumnya.[295] Berdasarkan cerita pendek karya Mahasweta Devi, film Hindi Sunghursh (1968) mengisahkan sebuah keluarga thuggee dan memperlihatkan seorang pemuja Kali yang berusaha mewariskan kedudukannya kepada cucunya, sang tokoh utama.[296]

Film Steven Spielberg tahun 1984, Indiana Jones and the Temple of Doom, yang mengambil inspirasi dari Gunga Din, menampilkan sebuah sekte thuggee fanatik yang bermarkas di kuil bawah tanah dan dipimpin oleh pendeta Kali Mola Ram. Dalam film tersebut, "Thuggees [sic]"[297] telah mencuri sebuah lingga dan memanfaatkan anak-anak yang diculik sebagai tenaga kerja paksa di tambang mereka. Tujuan mereka adalah "membantai kaum imperialis Britania, menghancurkan kaum Muslim, lalu membuat Tuhan orang-orang Kristen hancur menjadi debu".[298][299][300] Meskipun mereka sesekali mencoba mencekik korbannya, para Thuggee dalam film ini hampir tidak memiliki kemiripan dengan para Thug sebagaimana digambarkan oleh para penulis abad ke-19, dan justru mencabut jantung para korban persembahan mereka.[291] Film Hindi tahun 2018 Thugs of Hindostan berkisah tentang sekelompok Thug yang melawan kekuasaan Perusahaan Hindia Timur.[301][302] Para Thug digambarkan sebagai kawanan perampok yang menyergap korbannya dan tidak ditampilkan sebagai pemuja Kali.[303]

Galeri

Catatan

  1. ^ Perkiraan pada era kolonial mengenai jumlah korban yang tewas akibat thuggee sangat bervariasi. Dalam artikel Richard Sherwood tahun 1816, ia memperkirakan tidak lebih dari beberapa ratus kematian setiap tahun, sedangkan Samachar Darpan pada tahun 1833 memperkirakan rata-rata delapan ratus kematian setiap bulan. Dalam bukunya tahun 1920 berjudul Thug: Or a Million Murders, James L. Sleeman (cucu William Henry Sleeman) mengklaim bahwa sekitar 40.000 orang setiap tahun menjadi korban thuggee. Menurut sejarawan Mike Dash, James Sleeman kemudian secara sewenang-wenang merevisi perkiraan totalnya dari sekitar 20 juta menjadi satu juta.[7]
  2. ^ Ilustrasi ini merupakan bagian dari kumpulan sketsa cat air yang dibuat oleh seorang seniman India di bawah arahan Kapten James Paton, Asisten Residen di Lucknow yang bertanggung jawab atas Kampanye Anti-Thuggee di Oudh sejak pertengahan dekade 1830-an,[10][11] dan dimuat dalam manuskripnya yang belum diterbitkan berjudul Collections on Thuggee and Dacoitee.[12] Keterangan tulisan tangan pada ilustrasi tersebut berbunyi: "Para Thug yang hendak mencekik seorang pengembara! Para pembunuh yang terkenal keji ini, agar leher korban mereka yang lengah lebih terbuka untuk tujuan setaniah mereka, berpura-pura melihat sesuatu yang luar biasa, lalu mengarahkan perhatian korban ke bintang-bintang atau langit! Dan ketika ia mendongakkan kepalanya, mereka mencekiknya!"

    Ilustrasi lainnya mencakup lukisan cat air yang memperlihatkan seorang pengembara ditarik dari kudanya dan seorang pria dibunuh saat sedang tidur, serta serangkaian potret hitam-putih para approver milik Paton. Paton mengklaim bahwa ilustrasi-ilustrasi tersebut autentik, dengan menulis pada salah satu keterangannya: "Sketsa ini saya tunjukkan kepada tiga pemimpin pembunuh Thug, yang semuanya menyatakan bahwa ini merupakan penggambaran yang sangat akurat."[13]
  3. ^ UK /θʌˈɡ/ thuh-GHEE, US /ˈθʌɡi/ THUH-ghee; Hindustan: ठगी atau ٿهگی, pelafalan [ʈʰə.ɡiː]
  4. ^ Istilah yang digunakan pada masa itu untuk menyebut para informan.[16]
  5. ^ Divisi Bareilly dan Divisi Benares.[22]
  6. ^ Daftar pajak tersebut diperoleh pada tahun 1834 oleh William Henry Sleeman, administrator kolonial yang kemudian ditunjuk memimpin Kampanye Anti-Thuggee Britania, dan diterbitkan sebagai 'Lampiran O' dalam bukunya tahun 1836 yang berjudul Ramaseeana.[40]
  7. ^ Cozauk, atau kazak, adalah perampok berkuda, sedangkan Buddeck, yang juga dikenal sebagai Budhuk atau Badhak, merupakan kelompok pemburu dan penjebak hewan yang hidup di tepian hutan serta diduga sebagai golongan pencuri yang beroperasi di wilayah perbatasan Oudh.[57][58][59]
  8. ^ Menurut Wagner, para hakim membatalkan perkara-perkara tersebut bukan karena meragukan keberadaan para Thug, melainkan untuk membatasi pengaruh pejabat hukum Muslim yang dianggap terlalu bergantung pada pengakuan yang "palsu". Dalam hukum Islam, kesaksian pelaku kejahatan juga pada dasarnya tidak dapat diterima.[61]
  9. ^ Asisten Superintendent Polisi Provinsi Barat sekaligus keponakan orientalis Nathaniel Brassey Halhed.[22][62] Sebelumnya, pada tahun 1810, Halhed ditugaskan mengawasi 15 thana yang paling bermasalah di Aligarh. Pada tahun yang sama ia mengepung sebuah benteng untuk menangkap seorang kazak terkenal yang dilindungi oleh zamindar setempat. Pada tahun 1811 ia ditugaskan kepada Superintendent Provinsi Barat di Agra dan, dengan menerapkan taktik keras yang sama, menghabiskan paruh pertama tahun 1812 bertempur melawan para dacoit di wilayah perbatasan Negara Gwalior yang diperintah Scindia, atas izin Scindia.[63]
  10. ^ Menurut Kim A. Wagner, peristiwa ini terjadi akibat kesalahpahaman yang dipicu oleh saling tidak percaya antara Halhed dan penduduk desa, yang kemudian meningkat menjadi kekerasan.[66]
  11. ^ Menurut Mike Dash, jumlah tersebut setara dengan £1,5 juta pada tahun 2004.[76]
  12. ^ Dalam surat tersebut, pemerintah menyatakan: "Tangan para monster tak berperikemanusiaan ini terangkat terhadap semua orang, dan tidak ada satu negeri pun di sepanjang daerah jelajah tahunan mereka, dari Bundelkhand hingga Guzerat, yang tidak pernah menjadi tempat mereka melakukan pembunuhan. Oleh karena itu, mereka dapat dipandang seperti bajak laut, berada di luar perlindungan hukum masyarakat, dan dapat dijatuhi hukuman yang setimpal oleh otoritas mana pun yang menangkap dan memvonis mereka."[78]
  13. ^ Pengawal yang dipersenjatai dengan pedang dan perisai atau senapan sumbu.[94]
  14. ^ Buhram Jemadar, salah seorang approver yang berada dalam tahanan Paton di Lucknow, mengaku terlibat dalam 931 pembunuhan, sehingga kemudian tercatat dalam Guinness World Records.[105]
  15. ^ Undang-Undang Thuggee juga menghapus keharusan memperoleh fatwa dari pejabat hukum, sehingga menghilangkan pengaruh hukum Islam dalam perkara-perkara tersebut.[108]
  16. ^ Menurut Singha, sepanjang keberadaannya Departemen Thuggee dan Dacoity harus terus mempertahankan retorika mengenai keandalan sistem approver-nya dalam mencegah kolusi, guna memperkuat proses penuntutan.[146]
  17. ^ Menurut kesaksian Hussain, hal ini dilakukan karena pernah ada korban pencekikan yang berhasil pulih dan melarikan diri.[189]
  18. ^ Dalam sebuah artikel tahun 1984, pakar terorisme David C. Rapoport mengemukakan bahwa thuggee merupakan prototipe "terorisme keagamaan" yang bersifat apolitis, dengan menyatakan bahwa para Thug sengaja berupaya menimbulkan rasa sakit dan teror pada korbannya. Wagner membantah pandangan ini dengan mengutip kesaksian para approver serta mencatat bahwa Sleeman sendiri pernah menulis: "Saya sangat jarang menemukan contoh dari apa yang mungkin dapat disebut sebagai kekejaman yang tidak perlu; yaitu penderitaan yang ditimbulkan melebihi apa yang diperlukan untuk merenggut nyawa seseorang—baik penderitaan batin maupun jasmani". [penekanan pada naskah asli].[218]
  19. ^ Ia menempatkan para Thug dalam tradisi Tantra.[221] Berdasarkan karya Wilhelm Halbfass, ia menghubungkan keyakinan yang diduga mereka anut dengan Samsaramochaka, para pembunuh religius yang secara singkat disebut oleh Kumārila Bhaṭṭa, yang menganggap himsa (kebalikan dari ahimsa) sebagai suatu kebajikan, serta para Yogini dalam Netratantra yang mengorbankan manusia demi mempersatukan korbannya dengan Siwa.[222]
  20. ^ Menurut Gordon dan Wagner, Thug merupakan kelompok dengan status paling rendah dalam hierarki para perampok tersebut.[226]
  21. ^ Menurut Gordon dan Wagner, Thug merupakan kelompok dengan status paling rendah dalam hierarki para perampok tersebut.[226]
  22. ^ Dalam bukunya, James Sleeman menyatakan: "Dan sudah sepantasnya ketika pemerintahan Inggris di India begitu tidak adil dipersoalkan dan begitu tidak layak diserang, pemusnahan agama pembunuhan kuno ini ditampilkan sebagai satu lagi permata dalam mahkota Imperium."[270]

Referensi

  1. ^ Wagner 2007a, hlm. 217.
  2. ^ Dash 2005, hlm. 245,289.
  3. ^ Rawat & Mukherjee 2025, hlm. 5.
  4. ^ Wagner 2012, hlm. 145-146.
  5. ^ a b c d e Dash 2005, hlm. xii.
  6. ^ Dash 2005, hlm. 289.
  7. ^ Dash 2005, hlm. 283,336
    • Sherwood, Richard (1820). "Of the Murderers Called Phansigars". Asiatic Researches, Vol. 13. Delhi: Cosmo Publications. hlm. 270–271.
    • Sleeman, James L. (1933). Thug: Or a Million Murders. London: S. Low, Marston & Company Limited. hlm. 232–236.
  8. ^ Wagner 2007a, hlm. 216.
  9. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 235.
  10. ^ Wagner 2007a, hlm. 279.
  11. ^ a b Dash 2005, hlm. 195.
  12. ^ Wagner 2012, hlm. 143,147
  13. ^ a b Wagner 2012, hlm. 147.
  14. ^ Wagner 2012, hlm. 145,151.
  15. ^ Wagner 2007b, hlm. 358-359.
  16. ^ a b Dash 2005, hlm. 61.
  17. ^ Wagner 2007a, hlm. 106.
  18. ^ Wagner 2007a, hlm. 25.
  19. ^ Dash 2005, hlm. 29.
  20. ^ a b c Dash 2005, hlm. 298.
  21. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 30.
  22. ^ a b c Wagner 2007a, hlm. 67.
  23. ^ a b c d Wagner 2007a, hlm. 1–2.
  24. ^ Wagner 2007a, hlm. 29,195.
  25. ^ a b c d Wagner 2007a, hlm. 232.
  26. ^ a b Van Woerkens 2002, hlm. 109.
  27. ^ a b c d Wagner 2007a, hlm. 26.
  28. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 109-110.
  29. ^ Wagner 2007a, hlm. 26–27.
  30. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 111.
  31. ^ Wagner 2007a, hlm. 27-28.
  32. ^ Wagner 2007a, hlm. 28-29.
  33. ^ a b Dash 2005, hlm. 38.
  34. ^ Wagner 2007a, hlm. 28.
  35. ^ Dash 2005, hlm. 37-38.
  36. ^ Wagner 2007a, hlm. 237
  37. ^ Wagner 2007a, hlm. 29-30.
  38. ^ Wagner 2004, hlm. 958; Wagner 2007a, hlm. 95
  39. ^ Dash 2005, hlm. 35-36.
  40. ^ Wagner 2004, hlm. 932,935,958
  41. ^ Wagner 2007a, hlm. 7.
  42. ^ Wagner 2007a, hlm. 37,39.
  43. ^ Wagner 2007a, hlm. 39–40.
  44. ^ Wagner 2007a, hlm. 39–40,239.
  45. ^ Wagner 2007a, hlm. 41.
  46. ^ Wagner 2007a, hlm. 42–43.
  47. ^ Wagner 2007a, hlm. 43.
  48. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 50.
  49. ^ Dash 2005, hlm. 28.
  50. ^ Wagner 2007a, hlm. 50–51.
  51. ^ Wagner 2007a, hlm. 51,53.
  52. ^ Lloyd 2006, hlm. 2.
  53. ^ Wagner 2007a, hlm. 52–54.
  54. ^ Wagner 2007a, hlm. 54,56.
  55. ^ Wagner 2007a, hlm. 56–58.
  56. ^ Wagner 2007a, hlm. 44.
  57. ^ Singha 1998, hlm. 183.
  58. ^ Wagner 2007a, hlm. xix.
  59. ^ Kumar 2004, hlm. 1085.
  60. ^ Wagner 2007a, hlm. 62–65.
  61. ^ Wagner 2007a, hlm. 64.
  62. ^ Wagner 2004, hlm. 955.
  63. ^ Wagner 2007a, hlm. 66–68.
  64. ^ Wagner 2007a, hlm. 68,70–71.
  65. ^ Dash 2005, hlm. 44.
  66. ^ Wagner 2004, hlm. 960.
  67. ^ Wagner 2007a, hlm. 73–74,175–176.
  68. ^ Wagner 2007a, hlm. 179–180,182.
  69. ^ Wagner 2007a, hlm. 184–185.
  70. ^ Wagner 2007a, hlm. 185–186
  71. ^ Wagner 2007a, hlm. 186–187.
  72. ^ Wagner 2007a, hlm. 187–189.
  73. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 222.
  74. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 197.
  75. ^ Wagner 2007a, hlm. 198.
  76. ^ Dash 2005, hlm. xiii.
  77. ^ Wagner 2007a, hlm. 199.
  78. ^ a b c Singha 1993, hlm. 120.
  79. ^ Dash 2005, hlm. 145.
  80. ^ Wagner 2007a, hlm. 199–200.
  81. ^ Lloyd 2006, hlm. 10.
  82. ^ Wagner 2007a, hlm. 201.
  83. ^ Wagner 2007a, hlm. 201,280.
  84. ^ "To the Editor of the Calcutta Literary Gazette". Calcutta Magazine and Monthly Register, Vol. 33. 1832. hlm. 503–510. Originally printed in the Calcutta Literary Gazette in 1830 and anonymously contributed by William Henry Sleeman, as stated in a footnote on p. 472.
  85. ^ Wagner 2007a, hlm. 201,263.
  86. ^ Wagner 2007a, hlm. 204.
  87. ^ a b c Wagner 2007a, hlm. 205–206.
  88. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 2.
  89. ^ Wagner 2007a, hlm. 207.
  90. ^ Wagner 2007a, hlm. 205,207.
  91. ^ Wagner 2007a, hlm. 203,209.
  92. ^ Dash 2005, hlm. 143.
  93. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 210.
  94. ^ Dash 2005, hlm. xv.
  95. ^ a b Singha 1998, hlm. 204.
  96. ^ a b c d Wagner 2007a, hlm. 211.
  97. ^ Dash 2005, hlm. 183–184.
  98. ^ Fhlathúin 2001b, hlm. 9.
  99. ^ Singha 1998, hlm. 245.
  100. ^ Wagner 2007a, hlm. 204,263.
  101. ^ a b c d e Dash 2005, hlm. 168–169.
  102. ^ a b c Wagner 2007a, hlm. 212.
  103. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 83.
  104. ^ Wagner 2007a, hlm. 265,279.
  105. ^ Wagner 2012, hlm. 148.
  106. ^ Dash 2005, hlm. 194.
  107. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 214.
  108. ^ Singha 1998, hlm. 168–169.
  109. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 215.
  110. ^ Singha 1998, hlm. 161,220.
  111. ^ Singha 1998, hlm. 220–223.
  112. ^ Wagner 2007a, hlm. 216,266.
  113. ^ Lloyd 2006, hlm. 14.
  114. ^ Wagner 2007a, hlm. 3.
  115. ^ a b Singha 1993, hlm. 146.
  116. ^ Brown 2014, hlm. ix.
  117. ^ a b Perris 2025, hlm. 208.
  118. ^ Piliavsky 2013, hlm. 755.
  119. ^ Singha 1998, hlm. 216.
  120. ^ Brown 2014, hlm. 2–3.
  121. ^ a b Report of the Indian Police Commission, 1902–03 (Report). Shimla: Government Central Printing Office. 1903. hlm. 12.
  122. ^ Piliavsky 2013, hlm. 755,778.
  123. ^ Piliavsky 2015, hlm. 339.
  124. ^ Brown 2003, hlm. 211.
  125. ^ Brown 2003, hlm. 210–211,213.
  126. ^ Piliavsky 2013, hlm. 777.
  127. ^ Griffiths 1971, hlm. 121.
  128. ^ "The Salvation Army International Heritage Centre Subject Guide: Denotified Tribes" (PDF). Salvation Army. 2020. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 12 June 2025.
  129. ^ Wagner 2012, hlm. 136.
  130. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 7.
  131. ^ a b c d Dash 2005, hlm. xi.
  132. ^ Wagner 2007b, hlm. 358–359.
  133. ^ Dash 2005, hlm. 228.
  134. ^ Lloyd 2006, hlm. 5–6, 9.
  135. ^ Lloyd 2006, hlm. 9.
  136. ^ Chatterjee 1998, hlm. 4,128,141: "like Teltscher, I treat them 'primarily as representations. That is to say they are neither evaluated on their supposed accuracy, nor assessed on the extent of knowledge of India which they display.'"
    • Lloyd 2006, hlm. 8: "Wagner and Dash argue that Chatterjee's account (and others that they characterise as similar, such as those by P. Roy (1998) and Flathuín (2001, 2004)) denies the existence of 'thuggee'... Of course, Wagner and Dash here try to bind the likes of Chatterjee into their own historical and historiographical projects, which rest on the prospect of reaching The Truth behind things"
  137. ^ a b Subrahmanyam, Sanjay (3 December 2009). "Who were they?". London Review of Books. 31 (23). Diarsipkan dari asli tanggal 18 May 2026. Review of Stranglers and Bandits: A Historical Anthology of 'Thuggee' edited by Kim Wagner. Oxford, 318 pp., £22.99, January 2009, 978 0 19 569815 2.
  138. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 57.
  139. ^ a b Wagner 2012, hlm. 145.
  140. ^ Roy 1998, hlm. 43,60,70: "In the first place, I do not wish to furnish another account of thuggee or to enter the traffic in competing narratives of what might have constituted a material thug organization or practice."
  141. ^ Wagner 2007a, hlm. 7, 15–16.
  142. ^ Macfie 2008, hlm. 396.
  143. ^ Wagner 2007a, hlm. 8.
  144. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 23.
  145. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 8,115.
  146. ^ Singha 1998, hlm. 219.
  147. ^ Fhlathúin 2001a, hlm. 36.
  148. ^ Wagner 2004, hlm. 933.
  149. ^ Wagner 2007a, hlm. 5–6,92
    • Gupta, Hiralal (1959). "A critical study of the Thugs and their activities". Journal of Indian History. 34 (2): 167–177.
  150. ^ Singha 1998, hlm. 192.
  151. ^ Dash 2005, hlm. xi,19–20.
  152. ^ Wagner 2007a, hlm. 92.
  153. ^ Singha 1993, hlm. 98–99.
  154. ^ a b c Wagner 2007a, hlm. 218.
  155. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 159.
  156. ^ a b c Wagner 2007a, hlm. 219.
  157. ^ Wagner 2007a, hlm. 7–8.
  158. ^ Dash 2005, hlm. 81.
  159. ^ Dash 2005, hlm. 124,288.
  160. ^ Dash 2005, hlm. 288.
  161. ^ Dash 2005, hlm. 283,289,336.
  162. ^ Wagner 2004, hlm. 934: "As it is also the first scholarly monograph on the subject... The book was first published in 1995 in French... but had little or no impact on the broader study of the subject."
  163. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 182–184.
  164. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 34.
  165. ^ Macfie 2008, hlm. 393.
  166. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 8.
  167. ^ a b c Macfie 2008, hlm. 384.
  168. ^ Lloyd 2006, hlm. 6: "For a brief but damning critique of The Strangled Traveler, see S. Sen..."
  169. ^ Wagner 2004, hlm. 934,945: "Furthermore, I will discuss Martine van Woerkens's The Strangled Traveler: Colonial Imaginings and the Thugs of India from 2002, which is the most recent contribution to the study of thuggee and which stands for a resurrection of the colonial tradition... The Strangled Traveler, however, is also a very confusing book in which the argumentation is contradictory and the different chapters appear to subvert each other, and thus many good points are lost if not actually negated."
  170. ^ Lloyd 2006, hlm. 39.
  171. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 291–292.
  172. ^ Kaye, John William (1897). The Suppression of Thuggee and Dacoity. London; Madras: Christian Literature Society for India. Frontispiece illustration. Reprinted from The Administration of the East India Company; a History of Indian Progress (1853).
  173. ^ Sleeman, James L. (1933). Thug: Or a Million Murders. London: S. Low, Marston & Company Limited. Sleeman's grandson. Frontispiece illustration, found online here. Caption revised by Dash 2005, hlm. 168–169.
  174. ^ Wagner 2007a, hlm. 215–216
  175. ^ Wagner 2007a, hlm. 111.
  176. ^ Wagner 2007a, hlm. 112–113.
  177. ^ Wagner 2007a, hlm. 76.
  178. ^ Wagner 2007a, hlm. 46,114.
  179. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 114.
  180. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 120.
  181. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 116–117.
  182. ^ Wagner 2007a, hlm. 110.
  183. ^ Wagner 2007a, hlm. 46–47.
  184. ^ Dash 2005, hlm. 78.
  185. ^ a b Dash 2005, hlm. x.
  186. ^ a b Dash 2005, hlm. 73.
  187. ^ Singha 1993, hlm. 109,116.
  188. ^ Wagner 2007a, hlm. 250.
  189. ^ Wagner 2007a, hlm. 117.
  190. ^ Singha 1993, hlm. 142–143.
  191. ^ The Missionary Repository and Sunday School Missionary Magazine for Youth, Vol. XII. London: John Snow. 1850. hlm. 98.
  192. ^ Wagner 2007a, hlm. 137.
  193. ^ Wagner 2007a, hlm. 140.
  194. ^ a b c Wagner 2007a, hlm. 19.
  195. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 176.
  196. ^ a b c Wagner 2007a, hlm. 151.
  197. ^ Wagner 2004, hlm. 953.
  198. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 182.
  199. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 141.
  200. ^ Humes 2003, hlm. 159.
  201. ^ Dash 2005, hlm. 229–230.
  202. ^ Dash 2005, hlm. 204.
  203. ^ Parkes, Fanny (1850). Wanderings of a Pilgrim In Search of the Picturesque during Four-and-Twenty Years in the East; with Revelations of Life in the Zenāna. Vol. 1. London: Pelham Richardson. hlm. 150–151.
  204. ^ a b c d Wagner 2007a, hlm. 138.
  205. ^ Wagner 2007a, hlm. 151,219.
  206. ^ Dash 2005, hlm. 85.
  207. ^ Wagner 2007a, hlm. 140,254; Wagner 2004, hlm. 953
  208. ^ Wagner 2007a, hlm. 150–151.
  209. ^ Dash 2005, hlm. 175.
  210. ^ Wagner 2007a, hlm. 193–194,261
    • Sherwood, Richard (1820). "Of the Murderers Called Phansigars". Asiatic Researches, Vol. 13. Delhi: Cosmo Publications. hlm. 250–281. Originally printed in the Madras Literary Gazette in 1816.
  211. ^ Rawat & Mukherjee 2025, hlm. 4.
  212. ^ Wagner 2007a, hlm. 194.
  213. ^ Wagner 2007a, hlm. 188–189.
  214. ^ a b Singha 1993, hlm. 101.
  215. ^ Wagner 2007a, hlm. 152.
  216. ^ Dash 2005, hlm. xi,228.
  217. ^ Wagner 2007a, hlm. 152–153.
  218. ^ Wagner 2022, hlm. 132–133,142.
  219. ^ Kaye, John William (1897). The Suppression of Thuggee and Dacoity. London; Madras: Christian Literature Society for India. hlm. 13. Reprinted from The Administration of the East India Company; a History of Indian Progress (1853).
  220. ^ Dash 2005, hlm. 124.
  221. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 170.
  222. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 172–174,356.
  223. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 183.
  224. ^ Wagner 2007a, hlm. 5.
  225. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 94,218.
  226. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 93.
  227. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 85.
  228. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 87.
  229. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 89,110.
  230. ^ a b Dash 2005, hlm. 35,66–67.
  231. ^ a b c d e f Wagner 2007a, hlm. 107.
  232. ^ a b Dash 2005, hlm. 86.
  233. ^ a b Van Woerkens 2002, hlm. 144.
  234. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 147.
  235. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 147–148,218.
  236. ^ a b Dash 2005, hlm. 93.
  237. ^ Sleeman, William Henry (1836). Ramaseeana: Or A Vocabulary of the Peculiar Language Used by Thugs. Calcutta: G. H. Huttman, Military Orphan Press.
  238. ^ a b c d Wagner 2007a, hlm. 129–130.
  239. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 130.
  240. ^ a b Singha 1993, hlm. 124.
  241. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 131–133.
  242. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 131–132.
  243. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 133.
  244. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 131,218–219.
  245. ^ Sleeman, William Henry (1836). Ramaseeana: Or A Vocabulary of the Peculiar Language Used by Thugs. Calcutta: G. H. Huttman, Military Orphan Press.
  246. ^ Wagner 2007a, hlm. 213.
  247. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 17.
  248. ^ Dash 2005, hlm. 154–155.
  249. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 68.
  250. ^ Dash 2005, hlm. 185.
  251. ^ Wagner 2007a, hlm. 16–17.
  252. ^ Dash 2005, hlm. xvi,272.
  253. ^ a b c Dash 2005, hlm. 272.
  254. ^ Rawat & Mukherjee 2025, hlm. 1-2.
  255. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 268–269.
  256. ^ Rawat & Mukherjee 2025, hlm. 14–15.
  257. ^ Rawat & Mukherjee 2025, hlm. 14–15,17.
  258. ^ Rawat & Mukherjee 2025, hlm. 15–16,18.
  259. ^ Rawat & Mukherjee 2025, hlm. 17–18.
  260. ^ a b Dash 2005, hlm. 273.
  261. ^ a b Dash 2005, hlm. 274.
  262. ^ Rawat & Mukherjee 2025, hlm. 16–17.
  263. ^ Dash 2005, hlm. 275.
  264. ^ Dash 2005, hlm. 275–276.
  265. ^ Rawat & Mukherjee 2025, hlm. 19.
  266. ^ Wagner 2007a, hlm. 116.
  267. ^ Macfie 2008, hlm. 383.
  268. ^ a b c Wagner 2007a, hlm. 2.
  269. ^ Dash 2005, hlm. x–xi, 283.
  270. ^ Wagner 2007a, hlm. 4
  271. ^ Chakraborty 2019, hlm. 344.
  272. ^ Wagner 2007a, hlm. 115.
  273. ^ Chakraborty 2021a, hlm. 2-3
  274. ^ Bruce, Henry (1877). "Introduction". Dalam Meadows Taylor, Philip (ed.). The Story of My Life (PDF). Oxford University Press. hlm. vii.
  275. ^ Perris 2025, hlm. 208,220.
  276. ^ Wagner 2012, hlm. 159.
  277. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 237.
  278. ^ Wagner 2012, hlm. 140.
  279. ^ Finkelstein 1990, hlm. 65–66.
  280. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 272.
  281. ^ a b c Chakraborty 2020, hlm. 10.
  282. ^ Chakraborty 2020, hlm. 12.
  283. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 273, 277–278.
  284. ^ Chakraborty 2021b, hlm. 6–8.
  285. ^ Chakraborty 2020, hlm. 9.
  286. ^ Browning 2025, hlm. xxv–xxxvii.
  287. ^ a b Macfie 2008, hlm. 386–387.
  288. ^ Jakeman, Jane (2 February 2014). "Book review: The Strangler Vine by MJ Carter". The Independent. Diarsipkan dari asli tanggal 4 February 2026.
  289. ^ Westerhoff, Jeff. "The Strangler Vine". Historical Novel Society. Diarsipkan dari asli tanggal 15 March 2015.
  290. ^ Macfie 2008, hlm. 386.
  291. ^ a b Finkelstein 1990, hlm. 64.
  292. ^ Fujiwara 2019, hlm. 208–210.
  293. ^ Lo Turco 2014, hlm. 212-213.
  294. ^ "Kali Yug, Teil 2 – Aufruhr in Indien". Cinema (dalam bahasa German). Diarsipkan dari asli tanggal 27 June 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  295. ^ Shumsky 2022, hlm. 12-13.
  296. ^ Upadhyaya, Amit (7 October 2018). "Superstar Dilip Kumar was the 'Thug of Hindostan' in 1968 hit film Sunghursh". ThePrint. Diarsipkan dari asli tanggal 23 February 2025.
  297. ^ Katz, Gloria; Huyck, Willard. "INDIANA JONES AND THE TEMPLE OF DOOM screenplay". Daily Script. Diarsipkan dari asli tanggal 12 February 2026. MOLA RAM: Soon we will have all five Sankara Stones and the Thuggees will be all powerful!
  298. ^ Macfie 2008, hlm. 387.
  299. ^ Van Woerkens 2002, hlm. 283–284.
  300. ^ Barkman & Sanna 2022, hlm. 9.
  301. ^ Mitra, Shilajit (10 November 2018). "'Thugs of Hindostan' Movie Review: A rebelliously slow film that remains stranded on the shore". The New Indian Express. Diarsipkan dari asli tanggal 30 June 2022.
  302. ^ Maini, Kartik (13 November 2018). "Thugs of Hindostan's representation of the cult of 'Thuggee' may make for good cinema, but is bad history". Firstpost. Diarsipkan dari asli tanggal 26 September 2020.
  303. ^ Chakraborty 2019, hlm. 348–349.
  304. ^ Wagner 2012, hlm. 143,147.
  305. ^ Wagner 2012, hlm. 143,155,161
  306. ^ Wagner 2012, hlm. 147-148.

Bibliografi

Bacaan lanjutan

Literatur kolonial

Referensi

Cendekiawan modern

Pranala luar

  1. ^ a b Wagner 2004, hlm. 937.
  2. ^ Fhlathúin 2001a, hlm. 34.
  3. ^ a b Wagner 2007a, hlm. 232.
  4. ^ Wagner 2007a, hlm. 4.
  5. ^ Macfie 2008, hlm. 397.
  6. ^ Fhlathúin 2001a, hlm. 34-35.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.