Peperangan prasejarah
Peperangan prasejarah merupakan istilah untuk menunjukkan perang yang terjadi antar masyarakat tanpa catatan sejarah.
Eksistensi-dan definisi-atas perang merupakan keadaan alamiah dan sifat naluri manusia. Hal ini menjadi topik yang kontroversial dalam sejarah gagasan (history of ideas). Begitulah yang disampaikan oleh Thomas Hobbes pada Leviathan (1651), dalam pandangannya yaitu "war of all against all" (perang antar segala melawan semuanya). Pandangan ini secara langsung ditentang oleh Jean-Jacques Rousseau dalam Discourse on Inequality (1755) dan The Social Contract (1762). Perdebatan tentang sifat manusia ini mencakup antropologi kontemporer, arkeologi, etnografi, sejarah, ilmu politik, psikologi, primatologi dan filsafat dalam buku-buku yang berbeda seperti War in Human Civilization[1] karya Azar Gat dan Warless Societies and the Origin of War[2] karya Raymond C. Kelly.
Pada artikel ini, "peperangan prasejarah" akan didefinisikan secara luas sebagai keadaan agresi mematikan yang terorganisir antar komunitas otonom yang belum mengenal huruf (praliterasi).[3]
Masa Paleolitikum

Sejak masa Paleolitikum, ilmuwan meyakini bahwa nenek moyang manusia di masa itu memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan.[4] Simpanse, kera yang secara genetis dekat dengan manusia diketahui suka melancarkan perang untuk memperebutkan teritori dan sumber daya.[5]
Menurut antropolog budaya dan etnografer Raymond C. Kelly, kepadatan populasi pada masyarakat berburu dan meramu paling awal yang diasosiasikan dengan Homo erectus kemungkinan cukup rendah sehingga konflik bersenjata dapat dihindari. Perkembangan senjata tombak dan teknik berburu dengan penyergapan yang menuntut tingkat kerja sama yang tinggi, sehingga potensi kekerasan antarkelompok pemburu menjadi sangat mahal secara sosial. Di masa ini, Homo Erectus mencegah konflik atas persaingan atas sumber daya melalui pemeliharaan populasi rendah. Hal ini akhirnya diduga mempercepat migrasi Homo erectus keluar dari Afrika sekitar 1,8 juta tahun yang lalu, sebagai konsekuensi alamiah dari upaya penghindaran konflik.
Masa Epipaleolitikum

Catatan: Masa Epipaleolitikum tidak terlalu sering dibahas dalam bahasa Indonesia. Masa ini lebih dikenal sebagai masa Mesolitikum.[6]
Catatan arkeologis tertua yang dapat diinterpretasikan sebagai pembantaian prasejarah ditemukan di situs Jebel Sahaba, yang dilakukan terhadap suatu populasi yang diasosiasikan dengan budaya Qadan di wilayah Sudan utara bagian paling jauh. Kompleks pemakaman di situs ini mengandung sejumlah besar kerangka manusia yang berusia sekitar 13.000–14.000 tahun, dengan 24 dari 59 kerangka menunjukkan adanya mata panah yang tertanam pada tulang, yang mengindikasikan bahwa kerangka-kerangka tersebut kemungkinan merupakan korban konflik bersenjata.[7] Kekerasan tersebut -apabila penanggalannya tepat- kemungkinan terjadi sebagai dampak lanjutan dari krisis ekologis lokal.[8] Pada awalnya, Jebel Sahaba dipandang sebagai lokasi terjadinya satu pertempuran tunggal. Namun, penelaahan ulang terhadap sisa-sisa rangka tersebut telah menggugurkan hipotesis yang diajukan ini. Ditemukannya lesi yang telah sembuh dan yang belum sembuh secara bersamaan pada 41 individu memberikan dukungan kuat terhadap interpretasi bahwa terdapat kekerasan yang bersifat sporadis dan berulang antara kelompok-kelompok sosial di Lembah Sungai Nil.
Masa Neolitikum
Masa Kaltolitikum menuju Zaman Perundagian
Zaman Besi
Peperangan terbatas (endemic warfare)
Referensi
- ^ Azar, Gat (2006). War in Human Civilization. Oxford University Press. ISBN 978-0199236633. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Raymond C., Kelly (2000). Warless Societies and the Origin of War. University of Michigan Press. ISBN 978-0472067381. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Thorpe, Iain John Neil (2003). "Anthropology, Archaeology, and the Origin of Warfare" (PDF). World Archaeology. 35 (1): 145–165. doi:10.1080/0043824032000079.
- ^ Duhaime-Ross, Arielle (2016-01-20). "Skeletons from a 10,000-year-old massacre have archaeologists in a fight of their own". The Verge. Diakses tanggal 2026-01-04.
- ^ Dunham, Will (2023-07-03). "Scientists observe chimpanzees using human-like warfare tactic". Reuters. Diakses tanggal 2026-02-04.
- ^ "Mesolithic". Britannica. 2025-12-05. Diakses tanggal 2026-10-02.
- ^ Antoine, Daniel; Antoine; Friedman (2013). "Revisiting Jebel Sahaba: New Apatite Radiocarbon Dates for One of the Nile Valley's Earliest Cemeteries". American Journal of Physical Anthropology Supplement. 56: 68.
- ^ Ferguson, R. Brian (July 2000). "The Causes and Origins of "Primitive Warfare": On Evolved Motivations for War". George Washington University Institute for Ethnographic Research. 73 (3): 159–164. doi:https://doi.org/10.1353/anq.2000.0004. ; ;
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.