Wayang krucil

Wayang krucil menak jinga

Wayang krucil adalah kesenian dari bahan kulit dan berukuran kecil sehingga lebih sering disebut dengan Wayang Krucil. Wayang ini dalam perkembangannya menggunakan bahan kayu pipih (dua dimensi) yang kemudian dikenal sebagai Wayang Klithik.

Di daerah Jawa Tengah wayang krucil memiliki bentuk yang mirip dengan wayang gedog. Tokoh-tokohnya memakai dodot rapekan, berkeris, dan menggunakan tutup kepala tekes (kipas). Sedangkan, di Jawa Timur tokoh-tokohnya banyak yang menyerupai wayang kulit purwa, raja-rajanya bermahkota dan memakai praba. Di Jawa Tengah, tokoh-tokoh rajanya bergelung Keling atau Garuda Mungkur saja.

Berbeda dengan penampilan wayang pada umumnya, wayang krucil tidak menggunakan kelir dan tidak ditancapkan pada gedebog. Namun, pada kayu atau bambu panjang yang berlubang-lubang atau slanggan. Setiap adegan dari wayang krucil dibawakan oleh dalang dan diiringi oleh tembang macapat.[1]

Cerita yang dipakai dalam wayang krucil umumnya mengambil dari zaman Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga zaman Prabu Brawijaya di Majapahit. Kisah populer lainnya yang dimainkan oleh Wayang Krucil adalah Mahabarata dan Panji Asmorobangun.[1] Namun, tidak menutup kemungkinan wayang krucil memakai cerita wayang purwa dan wayang menak, bahkan dari babad tanah jawa sekalipun.

Gamelan yang dipergunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang ini amat sederhana, berlaras slendro dan berirama playon bangomati (srepegan). Namun, adakalanya wayang krucil menggunakan gendhing-gendhing besar.

Sejarah Wayang Krucil

Sejarah kemunculan wayang krucil terdapat dalam Serat Sastramiruda, di dalam naskah itu disebutkan bahwa wayang krucil pertama kali dibuat oleh Pangeran Pekik di Surabaya pada 1571 Saka (1648 M). Pada puncak kejayaannya di tahun 1960-an, Wayang Krucil tersebar hampir di seluruh daerah Jawa Timur. Mulai dari Kabupaten Ngawi, Magetan, Madiun, Nganjuk, Kediri, dan menyebar hingga kawasan Kabupaten Malang dan Pasuruan. Di Jawa Tengah Wayang Krucil juga dikenal di Kabupaten Blora.[1]

Tokoh Wayang Klithik/Krucil

  • Damarwulan
  • Menakjingga
  • Layangseta
  • Layang Kumitir
  • Logender
  • Prabu Kencanawungu
  • Patih Udara
  • Wahita
  • Puyengan
  • Adipati Sindura
  • Menak Koncar
  • Ranggalawe
  • Buntaran
  • Watangan
  • Anjasmara
  • Banuwati
  • Panjiwulung
  • Sabdapalon
  • Nayagenggong
  • jaka Sesuruh
  • Prabu brawijaya
  • Angkatbuta
  • Ongkotbuta
  • Dayun
  • Melik
  • Klana Candrageni
  • Klanasura
  • Ajar Pamengger
  • Dewagung Walikrama
  • Dewagung Baudenda
  • Daeng Marewah
  • Daeng Makincing

Pranala luar

  1. ^ a b c Publikasi, Seksi Dokumentasi (2022-11-05). "Wayang Krucil, Wayang Kayu Yang Jarang Dikenal | Cak Durasim". Diakses tanggal 2025-10-18.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.