Duit

Duit (Belanda: duit; Jawi: دؤيت; Jerman: deut) merupakan suatu kepingan wang logam digunakan dalam perdagangan di Belanda serta wilayah di barat Jerman yang bersempadanan (Kleve dan Geldern) pada abad ke-17 dan ke-18. Ia turut dilanjutkan oleh Syarikat Hindia Timur Belanda sebagai suatu nilai mata wang berdagang semasa ia mula muncul di Alam Melayu menerus ke penjajahan ia di kepulauan Nusantara. Wang ini digunakan di Belanda sampai tahun 1854.
Secara etimologi, kata duit/deut berasal dari kata bahasa Norse Kuno thveit yang pada dasarnya bererti "kepingan".
Nilai
Menurut penggunaannya di Belanda, 8 kepingan duit setara dengan satu stuiver dan 160 kepingan duit setara dengan satu gulden. Kepingan ini umumnya dibuat dari tembaga, namun ada pula yang ditempa dari perak dan emas.[1] Apabila nilai ini diterapkan dalam pemerintahan jajahan Hindia Timur Belanda pada 1726, ia disamakan dengan seperempat stuiver (yakni 4 duit = 1 stuiver.[2]
Penyerapan "duit" dalam alam Melayu serta bahasa dituturkan memberikan nilai tersendiri. Singapura dan Melaka semasa ditadbir dalam Negeri-Negeri Selat pernah menggunakan nama "duit" sebagai unit terkecil dalam mata wang ia di mana 4 kepingan "duit" bersamaan 1 sen, 2 1/2 bersamaan satu "wang".[3]
Ungkapan Belanda
Dalam bahasa Belanda, terdapat banyak ungkapan, peribahasa atau ucapan yang mengandung kata duit, antara lain:
- Een duit in het zakje doen (memasukan duit ke dalam saku), ertinya "menyumbangkan sesuatu"
- duitendief (pencuri duit), ertinya "serakah"
- Hij heeft veel kak, maar weinig duiten (dia banyak sampah, tetapi sedikit duit), ertinya "dia banyak berbual kosong"
- Moed hebben als een schelvis van drie duiten (berani bagaikan ikan haddock/ikan asap tiga duit), ertinya "menjadi takut/pengecut"
- Iemand van vier duiten weerom geven (mengembalikan empat duit kepada seseorang), ertinya "menceritakan hal yang sebenarnya kepada seseorang"
Lihat pula
Rujukan
- ^ Catalogus van de gouden en zilveren duiten geslagen in de voormalige provincies der Nederlanden 1578-1794.
- ^ Stephen Chia; Velat Bujeng (2021). Arkeologi Di Malaysia: Sejarah, Warisan Dan Kebudayaan. Dewan Bahasa Dan Pustaka Malaysia. ISBN 9789834921972. Diarkibkan daripada yang asal pada 2021-07-09. Dicapai pada 2021-07-03.
- ^ Swettenham, Frank Athelstane (1887). Vocabulary of the English and Malay languages, with notes. 2: Malay–English. (ed. ke-2). London: W. B. Whittingham. m/s. 128.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.