Boma

Di dalam seni bina kuil Bali, Boma (juga dieja Bhoma) adalah seni ukiran atau bentukan grotes yang menghiasi bahagian-bahagian tertentu di perkarangan kuil Bali. Patung tersebut mirip dengan Kala dalam kepercayaan Jawa, dan bertujuan untuk melindungi kuil daripada semangat jahat.
Lagenda asal-usul

Dalam lagenda Bali, Boma adalah putera Dewa Wisnu dan Dewi Pertiwi, dewa hujan dan dewi bumi. Pada suatu hari, ketika Wisnu sedang mengorek tanah dalam rupa bentuk Waraha, jelmaannya dalam rupa babi hutan, dia menemui dewi bumi yang serba indah bernama Dewi Pertiwi. Pertemuan itu membawa kepada perhubungan antara Wisnu dan Pertiwi, yang menghasilkan seorang anak yang hodoh lagi gerun rupanya bernama Bhoma.
Kisah Wisnu sebagai seekor babi hutan menggali ke dasar bumi untuk bertemu Pertiwi melambangkan kederasan hujan ribut yang turun ke bumi. Bhoma yang dihasilkan dari penyatuan ini ditafsirkan sebagai tumbuh-tumbuhan atau hutan (Vanaspati) sebagai hasil daripada bumi yang menerima air hujan. Dalam budaya Jawa dan Bali, Vanaspati adalah raja tumbuhan. Perkataan Boma berasal dari perkataan Sanskrit bhaumá, yang bermaksud 'tumbuhan' atau 'keluar dari bumi' atau apa-apa yang berkaitan dengan bumi. Boma juga berasal daripada kata asal yang berkaitan dengan 'bumi' (Bhumi).
Dalam seni bina

Boma ialah seorang kirtimuka. D lam seni bina kuil Bali, Boma mempunyai fungsi yang sama dengan Kala Jawa yang bertindak sebagai semangat yang menjaga kuil. Kepala Boma boleh ditemui di pintu gerbang kuil yang menandakan pintu masuk ke bahagian paling suci dalam kuil tersebut (paduraksa) dan di dasar padmasana, kuil yang paling suci dan paling tengah di kuil-kuil Bali.
Padmasana (bermaksud takhta teratai) adalah tempat tersuci di kompleks kuil Bali. Padmasana dikaitkan kepada Dewa Maha Agung, Acintya). Seperti kebanyakan binaan agama di Indonesia, keramat padmasana terbahagi kepada tiga bahagian, dari tapak ke puncak, bhur (alam jin), bhuwah (alam manusia), dan swah (alam dewa). Ukiran kepala Bhoma biasanya diletakkan di kaki padmasana, bersama dengan makhluk raksasa yang lain seperti: Bedawang Nala, penyu yang menyokong dunia di atas cangkerangnya, dan dua ular, Antaboga, dan Basuki, simbol keperluan duniawi manusia. Dalam konteks ini, kepala Boma di kaki padmasana melambangkan hutan yang mengelilingi kaki gunung (batur pepalihan).[1]
Dalam beberapa rumah Bali, pintu masuk ke beberapa astaka tertutup (mis. bale meten) dihiasi dengan perhiasan untuk membentuk jeriji pengalir udara yang kadangkala berpanel. Ini biasanya dihiasi pula dengan hiasan kerawang, yang kadang-kadang diukir dalam bentuk kepala Boma.[2]
Kepala Boma juga dapat dijumpai pada menara bakar mayat Bali.[3]
Lihat juga
Rujukan
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.