Wayang Kila
Wayang Kila | |
|---|---|
Wayang Kila yang terbuat dari jerami padi | |
| Informasi latar belakang | |
| Asal | Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat |
| Genre | Wayang |
| Instrumen | Jerami |
Wayang Kila adalah sebuah seni pertunjukan wayang yang terbuat dari bahan jerami padi, yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Nama "Kila" merupakan singkatan dari kata Kidung dan Lakbok, karena cerita yang dibawakan diangkat dari naskah kuno Kidung Lakbok karya M. Karso Prawirastramadja.[1]
Sejarah dan Filosofi
Wayang Kila pertama kali dipentaskan secara resmi pada hari Minggu, 15 November 2015, di Lapangan Desa Sukanegara, Kecamatan Lakbok. Pertunjukan ini dipimpin oleh dalang Dian Herdiana, dengan tujuan menghidupkan kembali sejarah dan nilai budaya leluhur masyarakat setempat.[1]
Nama "Kila" memiliki arti harfiah "kerajaan yang subur dan makmur", yang menggambarkan keadaan wilayah Lakbok yang dikenal sebagai lumbung padi Kabupaten Ciamis, serta merujuk pada sejarah wilayah tersebut yang konon merupakan lokasi kerajaan kuno Banjar Patroman. Ada juga versi yang menyebutkan nama ini diambil dari inisial tokoh legendaris setempat, yaitu "Ki Dug Lakbok".
Pemilihan bahan dasar dari jerami padi bukan tanpa makna; hal ini mengandung filosofi kedekatan masyarakat dengan alam dan pertanian, yang telah menjadi tumpuan hidup warga Lakbok sejak dahulu kala.[1]
Fungsi dan Unsur Pertunjukan
Pertunjukan Wayang Kila memiliki dua fungsi utama: 1. Sebagai acara pembuka yang bersifat sakral, berisi persembahan budaya kepada Nyi Pohaci (Dewi Padi/Dewi Sri). 2. Sebagai sarana pengingat sejarah dalam sebuah acara adat atau prosesi tradisi.[1]
Seni ini juga berfungsi sebagai media pelestarian sejarah dan ritual, biasanya ditampilkan dalam upacara adat seperti Ruwatan atau Hajat Bumi.
Unsur-unsur yang ada dalam pertunjukan Wayang Kila meliputi: - Boneka wayang yang seluruhnya terbuat dari jerami padi. - Dalang yang memainkan wayang sekaligus menyanyikan syair-syair dari Kidung Lakbok. - Bentukan hewan atau simbol adat dari jerami. - Musik pengiring menggunakan alat musik tradisional, antara lain: kokoléak, bangbaratan, kendang, dan tembang-tembang kuno.[1]
Hubungan dengan Kidung Lakbok
Naskah Kidung Lakbok yang ditulis pada tahun 1956 oleh M. Karso Prawirastramadja menjadi dasar utama cerita dan tembang dalam pertunjukan Wayang Kila.[2] Naskah ini menceritakan legenda dan sejarah Rawa Lakbok, tempat-tempat bersejarah seperti Batulawang, Gunung Sanggar, dan Gunung Babakan, serta memuat ramalan tentang nasib wilayah tersebut.
Galeri
-
Wayang Kila yang terbuat dari jerami padi
Lihat pula
Referensi
- ^ a b c d e "Wayang Kila, Seni Pertunjukan Acara Sakral Asal Lakbok". Arsip Internet. Diakses tanggal 1 Juni 2026.
- ^ "Kidung Lakbok". Wikisource Bahasa Sunda. Diakses tanggal 1 Juni 2026.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.