Tutug kambuhan

Tutug kambuhan adalah upacara pembersihan jiwa seorang bayi dari berbagai pengaruh roh jahat oleh masyarakat Bali, Indonesia.[1] Selain untuk bayi, upacara tutug kambuhan juga untuk ibunya, yakni pembersihan noda dan kotoran atau perbuatan tercela yang telah dilakukan.[1] Upaacara ini sebagai wujud rasa terima kasih kepada Nyama Bajang karena telah menjaga bayi dalam kandungan.[2] Upacara Tutug Kambuha juga disebut dengan Bulan Pitung, Dina atau Macolongan.[2]

Pelaksanaan

Upacara tutug kambuhan dilaksanakan saat bayi berusia 42 hari dengan perhitungan mengikuti wuku.[3] Upacara ini silakukan selama 6 minggu.[3] Pada usia 42 hari tali pusar sudah putus, lapisan kulit yang tipis sudah berganti, peredaran darah dan konsumsi makanan sudah lancar sehingga keringat, air mata, ludah, kencing, dan kotoran sudah keluar serta bagi sang ibu, aliran kotor dalam rahim sudah berhenti.[2] Upacara ini termasuk upacara manusia yadnya yang artinya upacara yang dilakukan untuk dan kepada manusia (bayi dan ibunya).[3] Bagi masyarakat Bali upacara ini wajib dilaksanakan, karena memiliki urgensi yang besar.[3] Upacara tutug kambuhan dipimpin oleh seorang pendeta atau sulinggihdan dilaksankan di rumah.[2] Tiga lokasi yang dipakai untuk upacara ini yaitu:

  1. di dapur, sebagai tempat pemujaan atau persembahan terhadap Dewa Brahma.[2]
  2. tempat pemandian, sebagai tempat pemujaan atau persembahan terhadap Dewa Wisnu.[2]
  3. sanggah kamulan, sebagai tempat pemujaan atau persembahan terhadap Dewa Siwa.[2]

Upacara ini dimulai dengan pembacaan doa oleh pendeta.[3] Pendeta mengahaturkan sesajian yang berfungsi sebagai instrumen pembersihan dan kesucian bayi yang dilahirkan.[3] Tujuan sesajian dihaturkan adalah memohon kesejahteraan, kesuksesan, dan juga perlindungan dari segala marabahaya yang akan dilami bayi pada masa mendatang.[3] Dan prosesi selanjutnya ialah melakukan Natab dan Dilukat yang juga menjadi bagian integral dari Upacara Tutug Kambuhan.[3] Setelah itu, diakhiri dengan melakukan persembahyangan kepada Sanghyang Widhi Wasa.[3]

Referensi

  1. ^ a b "Upacara Tutug Kambuhan". bali.panduanwisata.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-07-14. Diakses tanggal 14 Juni 2014.10.00. ;
  2. ^ a b c d e f g "Tutug Kambuhan". wisatadewata.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-07-04. Diakses tanggal 14 Juni 2014.10.00. ;
  3. ^ a b c d e f g h i "Upacara Tutug Kambuhan". jalan2.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-08-21. Diakses tanggal 14 Juni 2014.10.00. ;

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.