Tari Sodoran

Tari Sodoran adalah tarian sakral khas masyarakat Suku Tengger di wilayah lereng Gunung Bromo, Jawa Timur, yang ditampilkan dalam pembukaan rangkaian ritual Yadnya Karo. Tarian ini hanya dipentaskan satu kali dalam setahun pada bulan Karo dalam penanggalan Saka Tengger, dan memiliki makna simbolik tentang asal-usul kehidupan manusia. Karena sifatnya yang religius, Tari Sodoran termasuk dalam kategori tari sakral yang tidak ditampilkan secara sembarangan.[1]

Sejarah dan asal-usul

Tari Sodoran berasal dari tradisi sakral masyarakat Tengger yang erat kaitannya dengan kepercayaan tentang sangkan paraning dumadi, yaitu ajaran Jawa Kuno mengenai asal dan tujuan akhir kehidupan manusia.[2] Menurut kepercayaan masyarakat Tengger, manusia berasal dari Sang Hyang Widi Wasa dan akan kembali kepada-Nya, sebagaimana manusia berasal dari tanah dan kembali menjadi tanah.[1]

Sejarah keberadaan tari ini berkaitan erat dengan legenda masyarakat Tengger, yang banyak tercatat dalam karya-karya seperti milik J.E. Jasper (1926), Von Faber (1940), hingga Robert W. Hefner. Dalam beberapa catatan, termasuk Prasasti Walandit (1381 M dan 1405 M), eksistensi masyarakat Tengger dan sistem kepercayaannya sudah tercatat sejak zaman Majapahit.[3]

Ciri khas

Tari Sodoran memiliki gerakan yang sederhana namun sarat makna filosofis. Tarian ini menggambarkan pertemuan antara pria dan wanita sebagai simbol awal kehidupan. Setiap penari membawa sebatang tongkat bambu (sodor) yang berisi biji-bijian dan ditutup dengan serabut kelapa di kedua ujungnya. Gerakan penari saling memukul tongkat pasangannya secara lembut sebagai simbol keharmonisan dan awal penciptaan manusia dari unsur laki-laki (setya) dan perempuan (setuhu).[3]

Penari Tari Sodoran terdiri dari enam pasang pria dan wanita dewasa, yang umumnya telah menikah. Penari perempuan yang sedang dalam keadaan cuntaka (menstruasi) tidak diperbolehkan ikut serta. Penari inti memainkan alur utama tarian, sementara penari pendukung melengkapi latar suasana pertunjukan. Para penari diiringi oleh musik tradisional Suku Tengger yang menggunakan instrumen seperti kendang, bonang, saron, peking, slenthem, gambang, dan gong dengan laras pelog.[1]

Tahapan pertunjukan

Pementasan Tari Sodoran dilakukan secara runtut melalui beberapa tahap yang menyatu dalam rangkaian upacara adat Hari Raya Karo. Persiapan dimulai dari rumah Ketua Dukun Pandita di Dusun Tlogosari, Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan. Pada malam sebelum pementasan, dilaksanakan ritual pembuka yang disebut Rakantawang, yang menandai dimulainya Hari Raya Karo. Keesokan harinya, digelar ritual Blarak’i, yang terdiri atas prosesi doa, tarian, serta drama simbolik sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan pembuka pertunjukan utama.[butuh rujukan]

Sebelum tarian dimulai, dibacakan naskah tradisional Cangkriman Kertijoyo oleh Dukun Pandita dan asistennya, berisi wejangan dan pengantar makna tarian. Tari Sodoran sendiri ditampilkan dalam beberapa adegan yang menggambarkan tahapan kehidupan manusia, mulai dari perkenalan, pendekatan, pernikahan, hingga kelahiran. Adegan-adegan tersebut diekspresikan melalui gerakan saling sodor antar penari, yang secara simbolis mencerminkan interaksi antara unsur laki-laki dan perempuan.[butuh rujukan]

Puncak pertunjukan ditandai dengan pemukulan tongkat ke tanah, hingga biji-bijian yang berada di dalam tongkat keluar, melambangkan lahirnya kehidupan baru. Setelah itu, para penari melakukan gerakan penghormatan atau sungkem kepada sesama penari dan para sesepuh sebagai bentuk penutup sekaligus doa restu. Keseluruhan tahapan mencerminkan siklus hidup manusia dan menjunjung tinggi nilai kesucian, keseimbangan, dan penghormatan terhadap asal-usul.[1]

Makna dan fungsi

Tari Sodoran bukan hanya sebagai pertunjukan seni, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai-nilai spiritual dan sosial masyarakat Tengger. Gerakannya mencerminkan harmoni rumah tangga, kesederhanaan hidup, serta penghormatan terhadap leluhur dan Sang Pencipta. Tari ini berfungsi memperkuat kepatuhan masyarakat terhadap adat istiadat, menjaga kelestarian nilai gotong royong, serta menjadi pengingat siklus hidup manusia.[4]

Pelestarian

Tari Sodoran telah didaftarkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2013 dengan nomor registrasi 2013003535.[5] Pelestarian tarian ini terus dilakukan melalui upacara tahunan Yadnya Karo, pendidikan budaya lokal, serta dokumentasi dan publikasi oleh lembaga kebudayaan. Keterlibatan generasi muda Tengger dalam prosesi ini menjadi upaya penting agar nilai-nilai luhur dan praktik budaya tidak hilang ditelan zaman.[butuh rujukan]

Referensi

  1. ^ a b c d Sugita, Nabila Meidy. "Tari Sodoran, Tarian Sakral Suku Tengger di Ritual Yadnya Karo". detikjatim. Diakses tanggal 2025-06-18.
  2. ^ Akbar, Emil (2 Agustus 2023). "Tari Sodoran Meriahkan Hari Raya Karo di Tosari Bromo". RRI. Diakses tanggal 18 Juni 2025.
  3. ^ a b Kikomunal Indonesia. "Tari Sodoran Masyarakat Suku Tengger". kikomunal-indonesia.dgip.go.id. Diakses tanggal 2025-06-18.
  4. ^ Rofiq, M. "Mengintip Ritual Tari Sodoran Simbol Pernikahan Bagi Suku Tengger". detikjatim. Diakses tanggal 2025-06-18.
  5. ^ Pusdatin Kemendikbudristek (2020). "Tari Sodoran". Budaya Data Kemdikbud. Diakses tanggal 19 Juni 2025.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.