Sulam Angkinan
Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. (Juni 2025) |
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |
Sulam Angkinan merupakan salah satu bentuk kerajinan tekstil tradisional khas dari Pagar Alam, Sumatera Selatan. Kerajinan ini menggunakan kain beludru sebagai bahan dasar yang dihiasi dengan sulaman benang, terutama benang emas dan payet, sehingga menghasilkan motif yang bernilai estetika tinggi. Produk sulam ini umumnya diaplikasikan pada baju adat, sarung bantal, taplak meja, tirai, dan perlengkapan dekoratif kamar pengantin.[1]
Sejarah & Proses Pembuatan Sulam Angkinan
Kerajinan ini diwariskan secara turun-temurun, dan masih dilestarikan oleh sejumlah perajin lokal, salah satunya Abdul Kadir, seorang perajin yang melanjutkan usaha keluarganya sejak awal tahun 2000-an.
Proses produksi sulam Angkinan memerlukan waktu dan ketelitian. Perajin pemula biasanya membutuhkan 15 hari untuk menyelesaikan satu sarung bantal, sedangkan perajin terampil bisa menyelesaikan lima sarung bantal dan satu taplak meja dalam 10 hari. Harga produk ini berada pada kisaran Rp 8 juta, tergantung kompleksitas desain dan tingkat ketelitian sulaman.
Melihat keunikan dan nilai budaya Sulam Angkinan, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sumsel berupaya melestarikannya melalui inisiatif pendirian Kampung Sulam Angkinan di kawasan Jalan Mayor Zen, Palembang. Dukungan ini mencakup penyediaan fasilitas, bahan baku, serta pelatihan bagi perajin agar kerajinan ini dikenal lebih luas, baik di tingkat regional maupun nasional (sumsel.antaranews.com).
Proses pembuatan sulam Angkinan cukup rumit dan memerlukan ketekunan tinggi. Untuk perajin pemula, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu buah sarung bantal dapat mencapai 15 hari. Sementara itu, perajin yang telah mahir dapat menghasilkan lima sarung bantal dan selembar taplak meja dalam waktu sekitar 10 hari. Produk-produk sulam ini dihargai cukup tinggi, dengan kisaran harga mencapai Rp8 juta, tergantung pada tingkat kerumitan dan detail motifnya.
Sulam Angkinan memiliki keunikan dari segi desain dan teknik penyulamannya. Keindahan dari motif dan kualitas bahan membuat kerajinan ini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan lokal, tetapi juga menjadi suvenir unggulan bagi wisatawan yang berkunjung ke Pagar Alam. Produk ini juga dikenal awet dan tidak mudah luntur, menambah nilai jual serta menjadikannya simbol budaya yang terus dijaga oleh masyarakat setempat.
Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sumatera Selatan secara aktif mendukung upaya pelestarian sulam Angkinan sebagai bagian dari warisan budaya takbenda daerah. Upaya ini dinilai penting agar keberadaan sulam Angkinan tetap lestari dan dikenal lebih luas oleh masyarakat luar.[2]
Referensi
- ^ "10 Oleh-Oleh Khas Pagaralam yang Paling Populer - Libur.co" (dalam bahasa American English). 2021-12-03. Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ "Sulam Angkinan Kerajinan Khas Palembang Warisan Kerajaan Sriwijaya". wongkito.co. Diakses tanggal 2025-06-17.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.