Rahengan
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Juni 2025) |
Rahengan adalah salah satu warisan budaya takbenda Indonesia, berupa upacara tradisional yang masih diselenggarakan oleh masyarakat petani Desa Citatah, kecamatan Cipatat, kabupaten Bandung Barat. Acara ini diadakan setiap tahun dan diramaikan dengan iringan musik tarawangsa.[1] Upacara ini diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur petani atas hasil padi yang telah dipanen, dan memohon agar masa tanam yang akan datang tidak mengalami gangguan apapun. Selain itu, rahengan digunakan dalam upacara setelah kelahiran, sebelum pernikahan, acara khitanan, hajatan, syukuran rumah, dan upacara-upacara lainnya.[2] Upacara Rahengan melibatkan masyarakat, pemimpin adat, dan tokoh masyarakat.
Makna dan Tujuan
Upacara Rahengan menjadi bentuk rasa syukur masyarakat yang ditunjukkan kepada Dewi Padi (Sri Pohaci) dan Tuhan yang Maha Esa atas hasil panen yang didapat dan mengharapkan keberhasilan panen mendatang berlimpah tidak ada bencana apapun. Upacara Rahengan yang bertujuan sebagai penghormatan pada Dewi Sri ini dianggap penting, karena Sri Pohaci (padi) dianggap menjadi makanan utama yang memberi kehidupan dan menjadi simbol perempuan dalam kepercayaan masyarakat desa Citatah. Melalui ritual ini yang dalam beberapa unsurnya hanya bisa dilakukan oleh kaum perempuan menunjukkan berbagai bentuk penghormatan bahwa perempuan harus dijunjung tinggi dan diperlakukan dengan sebaik-baiknya.[3]
Peran Perempuan
Ritual inti dipimpin langsung oleh laki-laki yakni sesepuh desa dan ketua adat. Namun perempuan lebih banyak memegang peranan dari sejak acara persiapan ritual hingga pasca ritual. Perempuan sejak pagi-pagi sekali sibuk dengan kegiatan di rumah menyiapkan bahan makanan, memasak, membuat sesaji, hingga pekerjaan yang biasa dikerjakan laki-laki seperti mencari kayu bakar. Peran perempuan terasa menonjol dalam prosesi tari Tarawangsa, terlihat dari aktivitas beberapa sinden, penari (pengibing), dan para ibu sepuh yakni mapag, pengais, pangayun, dan panimbang. Empat ibu sepuh inilah yang mempunyai peranan penting dalam upacara Rahengan. Secara struktur, perempuan lebih banyak memegang peranan dari sejak acara persiapan ritual hingga pasca ritual.[4]
Referensi
- ^ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 56
- ^ wildan, mohammad (23 November 2016). "Rahengan, Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2016". Diakses tanggal 1 Juni 2025.
- ^ Rostiyanti, Ani (21 Mei 2020). "Perempuan dalam Upacara Rahengan". Diakses tanggal 1 Juni 2025.
- ^ Rostiyati, Ani (2017-09). "Peran Perempuan Pada Upacara Tradisional Rahengan Di Desa Citatah Kecamatan Cipatat". Patanjala. 9 (3): 291948. doi:10.30959/patanjala.v9i3.293. ISSN 2085-9937.
{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam:|date=
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.