Obor Pattimura

Obor Pattimura adalah sebuah pawai obor yang umumnya dilaksanakan di Provinsi Maluku. Pawai ini diadakan setiap tanggal 15 Mei, guna mengenang pahlawan nasional, Pattimura.[1] Lari obor akan dilakukan dari Saparua hingga Kota Ambon.[2]

Sejarah

Benteng Victoria, Ambon, tempat Thomas Matulessy dihukum gantung

Pattimura bernama asli Thomas Matulessy lahir tanggal 8 Juni 1783 di Negeri Haria, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.[3] Ayahnya bernama Frans Matulessy dan ibunya bernama Fransina Silahooy.[3] Pada tahun 1810, ia mendapat pangkat mayor di bawah pelatihan militer Inggris.[3]

Tanggal 13 Agustus 1814, Inggris dan Belanda menandatangani perjanjian Konvensi London, bahwa Kepulauan Maluku kembali di bawah kekuasaan Belanda.[3] Setelah terjadi perpindahan kekuasan tersebut, masyarakat di Kepuluan Maluku menghadapi monopoli perdagangan yang dilakukan oleh Belanda. Belanda juga membuat kebijakan agar masyarakat wajib memberikan ikan asin, kopi, dan hasil lautnya kepada Belanda. Hal ini berlangsung beberapa tahun berikutnya.[3]

Karena tindakan yang tidak adil tersebut, masyarakat Saparua, dimana Pattimura tinggal, melakukan perlawanan terhadap Belanda.[4] Pada 14 Mei 1817, para pejuang berkumpul di gunung Saniri untuk menyusun strategi melawan Belanda. Kapitan dari Pulau Ambon, Seram, Saparua, Haruku dan Nusalaut turut berkumpul pada pertemuan tersebut.[4] Sebagian besar yang hadir memilih Pattimura sebagai pemimpin dalam melawan Belanda. Sejak saat itulah ia mendapat julukan Kapitan atau panglima perang dengan gelar Pattimura.[5]

15 Mei 1817 Pattimura dan pejuang Saparua berhasil merebut Benteng Duustede dari tangan Belanda dan menewaskan semua tentaranya termasuk Residen Johannes Rudolph van den Berg.[3] Pada 11 November kemudian, Belanda kembali dengan membawa kekuatan yang lebihh besar, berhasil mengambil alih Benteng Duustede dan menangkap Pattimura.[3] Pattimura dibawa ke Ambon. Ia diminta pihak Belanda untuk bekerjasama tetapi menolaknya. Tanggal 16 Desember 1817 Pattimura dihukum gantung di Benteng Victoria Ambon.[3]

Tiga Obor Pattimura Sakral

Kisah perjuangan Kapitan Pattimura dirangkum dalam simbolisme "Tiga Obor Sakral" yang diawali oleh

Obor Pertama: Air Mata, yang melambangkan pedihnya penderitaan Rakyat Maluku akibat penindasan dan monopoli kolonial yang merampas harga diri mereka. Kepedihan tersebut kemudian membakar semangat perlawanan yang memuncak kepada kaum penjajah.

Obor Kedua: Perjuangan, sebuah api perjuangan abadi yang melambangkan tekad yang tak kunjung padam bagi generasi muda Maluku untuk terus menjaga kedaulatan dan kehormatan rakyat Maluku.

Obor Ketiga: Pertumpahan Darah, di mana rakyat dengan gagah berani mempertaruhkan nyawa di medan laga demi mengusir penjajah dari Tanah Maluku. Meski sang Kapitan akhirnya gugur, semangatnya tetap hidup dalam semangat api perjuangan rakyat Maluku.

Pawai obor

Peristiwa 14 Mei 1817 menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Maluku. Untuk mengenang kepemimpinan dan keberanian Pattimura, masyarakat Maluku menjadikan tanggal 15 Mei 1817 sebagai hari Pattimura. Acara ini dimulai dengan penyalaan obor di gunung Saniri sehari sebelumnya yakni 14 Mei. Api obor dinyalakan tepat di tempat musyawarah peristiwa 14 Mei 1817 diadakan. Api dinyalakan dengan menggesek bilah bambu hingga menghasilkan api untuk menyalakan obor Pattimura.[5] Dalam tradisinya, pembakaran obor di gunung Saniri ini hanya boleh dilakukan oleh anak adat Negeri Tuhaha.[5]

Pada upacara pembakaran obor, peserta yang hadir termasuk pada kepala adat dan raja akan mengenakan pakian yang didominasi warna merah dan hitam. Warga yang hadir juga akan membawa parang panjang dan tombak sambil berteriak sahut-sahutan, diiringi tabuhan tifa dan bunyi tahuri, alat musik yang terbuat dari kulit kerang.[5]

Referensi

  1. ^ "Obor Pattimura, Pawai Obor untuk Mengenang Pahlawan Maluku". 1001indonesia.net. 2 November 2022. Diakses tanggal 14 Juni 2025.
  2. ^ "5 Upacara Adat Dari Maluku, Dari Tradisi Sasi Hingga Obor Pattimura". regional.kompas.com. Diakses tanggal 15 Juni 2025.
  3. ^ a b c d e f g h Gischa, Serafica (14 November 2022). "Biografi Kapitan Pattimura, Pahlawan dari Maluku". www.kompas.com. Diakses tanggal 15 Juni 2025.
  4. ^ a b "Obor Pattimura, Maluku". kebudayaan.kemdikbud.go.id. 17 Desember 2015. Diakses tanggal 15 Juni 2025.
  5. ^ a b c d "Sejarah Gunung Saniri". kebudayaan.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 15 Juni 2025.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.