Glipang

Glipang adalah sebuah Tari Tradisional yang berkembang di Probolinggo yang muncul pada awal Abad 20 pada masa Kolonial Belanda yang merupakan pengembangan dari tari Remo.

Awal keberadaan

Keberadaan Tari Glipang berawal dari kelompok seni pertunjukan seni Keliling yaitu Ludruk, yang dimana Ludruk disetiap akan dimulai dibuka dengan Tari Remo. Kemudian Tari Remo inilah yang kemudian dikembangkan oleh masyarakat lokal yang disinggahi Ludruk keliling, diantaranya masyarakat Probolinggo.

Gerak tari Glipang tidak seluwes tari Remo, tetapi gerakan Reog yang ada di dalam Remo tetap ada pada tari Glipang seperti Warok, Jathilan dan Klono Sewandono, Selain itu terdapat gerakan silat. Maka tidak heran gerak tari Glipang mirip dengan gerak tari pada Reog Ponorogo.[1]

Glipang berasal dari Bahasa Jawa Ngglipang yang berarti bergerak-gerak berulang-ulang, senada dengan tari Glipang yang gerak tarinya mengulang.

Jenis Glipang

Glipang Probolinggo

Tari Glipang di Probolinggo dimulai pada tahun 1935 yang dikembangkan Oleh Seno alias Sari Truno, Tari Glipang oleh Seno dibawakan oleh kaum Pria saja.[2]

Glipang Lumajang

Tari Glipang di Lumajang dimulai pada tahun 1918 yang dikembangkan oleh Nyai Buya yang hanya diperuntukan oleh Kaum Pria untuk kepentingan syiar Islam,[3] kemudian pada tahun 1920 Kyai Djafar turut mengembangkan tari Glipang yang diiringi alat musik Kompang atau hadrah.[4]

Glipang Perempuan

Dengan berkembangnya zaman, pada tahun 1980 dimulai tari Jathilan yang mulanya dibawakan oleh kaum Pria juga dibawakan oleh kaum wanita diikuti tari Remo, Pada tahun 1991 Tari Glipang turut juga dibawakan oleh kaum Wanita.

Instrumen

Glipang ditampilkan dengan iringan instrumen seperti dua kendang (ketipung lakean dan ketipung binian), dua buah terompet bambu, tiga buah hadra (sejenis rebana kecil), dua buah tong-tong, sebuah jidhor, sebuah kecrek, dan dalam perkembangannya disertai dengan accordion.[5]

Referensi

  1. ^ Hardi, M. (2022-09-01). "Tari Remo dari Jawa Timur: Asal-Usul, Makna, dan Komposisinya". Gramedia Literasi. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-11-16. Diakses tanggal 2022-11-16.
  2. ^ ditwdb (2019-10-30). "Kiprah Glipang, Tarian masyarakat Kabutan Probolinggo". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-11-16. Diakses tanggal 2022-11-16.
  3. ^ Admin (2021-04-21). "TARI GLIPANG RODAT". wisatalumajang. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-28. Diakses tanggal 2022-11-16.
  4. ^ eldiannilam (2015-06-03). "Mengangkat Kesenian Glipang". eldian nilam (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2022-11-16. Diakses tanggal 2022-11-16.
  5. ^ Hastuti, Sri (2005). TRADISI NUSANTARA.pdf Musik Tradisi Nusantara: Musik-musik yang Belum Banyak Dikenal (PDF). Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.