Berdah Karimun
Berdah Karimun adalah salah satu kesenian tradisional masyarakat Melayu yang bernuansa Islam yang berasal dari Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional tak benda Indonesia. Berdah adalah seni melantunkan syair berbahasa Arab yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW, dibawakan secara berkelompok dengan iringan alat musik seperti rebana, dan memiliki nilai-nilai dakwah serta nuansa religius sufistik.[1][2]
Perkembangan Berdah Karimun
Seni musik Berdah di Karimun dikembangkan secara khusus di Desa Selat Mendaun, Kecamatan Karimun. Berdah merupakan seni musik yang bisa dimainkan oleh 10 hingga 20 orang. Alat musiknya berupa gendang, yang terbuat dari bahan kulit kambing atau kulit lembu dengan ukuran diameter 20 inchi (selebar talam besar yang biasa digunakan untuk hidangan).[3]
Biasanya berdah dimainkan pada acara pesta pernikahan, Sarakal, Perayaan Hari Besar Islam, Qasidah, barsanji dan acara hiburan yang bernuansa adat. Berdah ini sudah dilestarikan ± 40 tahun di Desa Selat Mendaun. Ada yang menarik yang menjadi kebiasaan masyarakat desa Selat Mendaun pada saat acara berdah, mereka disuguhkan makanan bubur dengan lauk ikan asin dan sambal belacan, cuci mulutnya buah nanas untuk mempertahankan suara, serta minum susu putih tanpa gula.[3]
Biasanya acara berdah ini dilaksanakan selepas isya sampai subuh hari, namun ini tidak bertahan lama, seiring dengan perkembangan zaman, akhirnya waktu berlangsungnya di persingkat sampai jam 12 malam. Berdah bukan hanya setakat seni musik yang memiliki nilai budaya Melayu yang tinggi, tetapi seni musik ini juga menjadi simbol yang kuat terhadap kedekatan nilai-nilai Islam yang kerap menjadi orientasi utama budaya Melayu khususnya di Kabupaten Karimun.[3]
Asal usul Berdah
Kata Berdah berasal dari kata burdah, Istilah burdah adalah suatu benda (kain) yang digunakan sebagai jubah nabi Muhammad SAW yang terbuat dari bulu domba. Kata burdah juga ditafsirkan sebagai ‘syair puji-pujian’ terhadap Nabi Muhammad SAW yang dibuat oleh Al-Bushiri (610-695 Hijriah atau tahun 1213-1296 M). Saat itu Al-Bushiri sedang sakit lumpuh dan ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, lalu beliau (Nabi Muhammad SAW) melepaskan jubahnya dan mengenakan kepadanya. Ketika ia bangun dari mimpi, seketika itu juga penyakit Al-Bushiri sembuh. Untuk itu sebagai ungkapan syukur, maka Al-Bushiri membuat syair puji-pujian yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW di dalam sebuah kitab yang dinamakan Al-Barzanji. Kemudian syair yang ditulis oleh Al-Bushiri ini mendapat penghargaan besar dikalangan umat Islam. Bacaan syair ini juga menjadi bacaan di dalam setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.[1]
Sejarah Berdah di Indonesia
Kesenian Berdah merupakan kesenian yang berasal dari Arab. Pada awalnya, kesenian ini dibawa oleh pedagang-pedagang Arab bersamaan dengan aktivitas perdagangannya ke Asia Tenggara, yaitu daerah Terengganu di semenanjung Malaysia.Daerah Terengganu ini, merupakan daerah yang cukup ramai disinggahi oleh para pedagang Arab. Yang kemudian terjadilah proses akulturasi budaya, yang memberikan kontribusi positif kepada masyarakat setempat. Kedatangan kesenian Berdah ke Terengganu bersamaan dengan upaya para pedagang tersebut, menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat. Seperti yang dilakukannya juga di pusat-pusat perdagangan lain, di tempat-tempat mereka berlabuh (berdagang).[4]
Sayangnya, saat ini berdah sudah jarang ditampilkan. Pada zaman dahulu, berdah tampil dalam setiap acara islami. Biasanya ditampilkan selesai Isya sampai salat Subuh. Tapi kini disesuaikan dengan kondisi acara. Tradisi pertunjukan musik berdah belum dirasakan, mengalami pergeseran secara signifikan dari dulu hingga kini. Tetapi dalam penyajiannya saja yang bertambah, di antaranya penyajian dalam konteks kegiatan pemerintah daerah. Seperti penyambutan tamu penting, resepsi dari rangkaian acara penyambutan tamu dan acara-acara program tertentu bagi pemerintah.[4]
Unsur-unsur Berdah
Musik berdah terdiri dari unsur-unsur melodi vokal (nyanyian) dan ritme alat musik bebane. Melodi vokal dibawakan secara koor (chorus) oleh sejumlah musisi dengan tekstur homophony melalui beberapa teknik, sedangkan pola-pola ritme pengiring melodi vokal juga dibawakan oleh para musisi dengan menggunakan beberapa teknik. Dalam permainannya para musisi adakalanya membentuk formasi melingkar dan biasanya disesuaikan dengan tempat yang telah disediakan oleh pihak penyelenggara. Posisi melingkar bertujuan agar para musisi bisa saling berhadap-hadapan dalam posisi duduk bersila agar terjalin komunikasi antar musisi untuk bisa saling mengontrol irama satu sama lain.[1]
Referensi
- ^ a b c admin (2019-01-22). "BERDAH". Diakses tanggal 2025-11-17.
- ^ tunggul (2023-09-14). "Kesenian Berdah Karimun Ditetapkan Warisan Budaya Nasional Tidak Benda". Kepri. Diakses tanggal 2025-11-17.
- ^ a b c admin (2016-11-28). "BERDAH CEMPAKA PUTIH". Diakses tanggal 2025-11-17.
- ^ a b MelayuPedia. "Kesenian Berdah Kabupaten Lingga, Kini Semakin Langka - melayupedia.com". www.melayupedia.com (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2025-11-17. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.