Tari Babangsai

Tari Babangsai adalah tarian tradisional yang berasal dari masyarakat Dayak Loksado (juga dikenal sebagai suku Bukit) di wilayah Pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Tarian ini awalnya merupakan bagian ritual upacara adat Aruh Ganal yang dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan kini menjadi unsur budaya penting dalam identitas masyarakat lokal.[1]

Asal-usul

Tari Babangsai telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dayak Loksado yang mengeanut kepercayaan Kaharingan. Upacara Aruh Ganal, tempat tarian ini disajikan, merupakan upacara adat besar yang dilaksanakan setahun sekali setelah panen raya. Upacara tersebut biasanya diadakan pada bulan Juni atau Juli, berlangsung selama tujuh hari tujuh malam, dan dipimpin oleh seorang Balian, yakni pemuka adat yang berperan sebagai perantara antara manusia dan dunia roh. [2]

Tari Babangsai ditarikan secara melingkar di dalam balai adat dengan mengelilingi sebuah altar sesaji yang disebut Lalaya. Gerakan berputar ini melambangkan keterhubungan manusia, alam, dan leluhur. Tarian ini juga memiliki kemiripan dengan tarian ritual rumpun Dayak Ot Danum di Kalimantan Tengah.

Fungsi dan Makna

Tari Babangsai memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi primer sebagai ritual dan sekunder sebagai sarana sosial dan hiburan.

Fungsi utama Tari Babangsai adalah sebagai bagian dari prosesi upacara Aruh Ganal. Tarian ini menjadi tanda pembukaan upacara dan memiliki makna penyambutan roh leluhur, yang disebut Datu Nini. Penyajian tari ini diyakini memanggil kehadiran roh nenek moyang agar memberkahi kehidupan masyarakat serta melindungi hasil panen dari marabahaya. Pelaksanaan Tari Babangsai bukan bertujuan menonjolkan nilai estetika, melainkan memastikan upacara adat berjalan sempurna sesuai kepercayaan setempat. Setiap penari perempuan harus berada dalam keadaan suci lahir batin karena kesucian dianggap syarat utama agar roh leluhur dapat hadir. Balian memimpin prosesi dengan melakukan bamamang (membaca mantra) dan membakar kemenyan untuk penyucian ruang dan penari sebelum tarian dimulai. [3]

Selain fungsi religiusnya, Tari Babangsai juga berperan mempererat hubungan sosial antarwarga. Pada malam kedua upacara Aruh Ganal, tarian ini ditampilkan secara bebas tanpa busana ritual khusus dan diiringi musik yang lebih ringan. Pertunjukan ini menjadi sarana hiburan bagi masyarakat, termasuk bagi tamu dari kampung lain yang diundang untuk ikut serta. Dalam konteks ini, Tari Babangsai berfungsi memperkuat nilai solidaritas, gotong royong, dan rasa syukur bersama atas karunia hasil panen.[4]

Aspek Ritual

Tari Babangsai dilaksanakan di dalam Balai Adat, tempat dilaksanakannya upacara Aruh Ganal. Pusat kegiatan adalah altar sesaji Lalaya, yang diyakini sebagai tempat berkumpulnya dewata dan roh leluhur. Upacara diadakan pada malam hari, karena menurut kepercayaan Kaharingan, waktu tersebut memudahakan komunikasi antara manusia dan roh gaib.

Penari Babangsai terdiri dari perempuan berbagai usia, mulai anak-anak, remaja, hingga dewasa. Jumlah penari tidak dibatas, tetapi seluruhnya harus memenuhi syarat kesucian. Perempuan dipilih karena diyakini sebagai simbol kehidupan dan kesuburan (indung dari segala ciptaan). Upacara dan tarian dipimpin oleh seorang Balian Tuha yang dibantu oleh Panjulang, perempuan yang bertugas menyampaikan permohonan atau pesan masyarakat kepada roh leluhur.

Gerakan Tari Babangsai bersifat repetitif dan berputar mengelilingi altar, dengan tempo yang lambat dan berirama lembut. Gerakannya melambangkan siklus kehidupan, keseimbangan, dan kesinambungan antara manusia, alam, dan roh.

Musik pengiring Tari Babangsai menggunakan tabuhan gendang, gong, dan alat musik petik seperti kecapi. Bunyi-bunyian tersebut berpadu dengan lantunan mantra bamamang oleh Balian yang berfungsi memanggil roh dan memberkahi upacara.

Penari mengenakan pakaian tradisional masyarakat Loksado, antara lain baju berlengan panjang bermotif kababitak (laba-laba), salawar hitam, dan ikat kepala (laung). Warna-warna yang digunakan umumnya lembut dan serasi, menandakan kesucian dan ketenangan.[5]

Referensi

  1. ^ https://budaya-indonesia.org/Tari-Babangsai
  2. ^ https://seringjalan.com/sejarah-tari-babangsai-dan-maknanya/
  3. ^ Rahmani, & Dana, I. W. (2016). Fungsi Tari Babangsai dalam Upacara Aruh Ganal di Desa Loksado Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan. Joged, 8(2), 371–382.
  4. ^ Rahmani, & Dana, I. W. (2016). Fungsi Tari Babangsai dalam Upacara Aruh Ganal di Desa Loksado Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan. Joged, 8(2), 371–382.
  5. ^ Rahmani, & Dana, I. W. (2016). Fungsi Tari Babangsai dalam Upacara Aruh Ganal di Desa Loksado Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan. Joged, 8(2), 371–382.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.