Reak Dogdog

Reak Dogdog adalah kesenian tradisional khas wilayah Kabupaten Bandung Timur, Provinsi Jawa Barat, yang memadukan musik dari alat pukul dogdog[1] (yang lebih dominan) dengan unsur tari dan suara riuh dari para pemainnya. Kesenian ini sering dipentaskan untuk memeriahkan acara seperti arak-arakan, menyambut hari besar, panen raya, dan acara istimewa lainnya, sebagai wujud rasa syukur dan meramaikan suasana.[2]

Sejarah Reak Dogdog

Asal-usul Reak berasal kata dari “reok”/”reog” yang berarti membuat kebisingan atau arti lain menyebutnya gaduh. Seni Reog ini dipercaya muncul sejak zaman Majapahit, lalu masuk ke daerah Jawa Barat di zaman Islam, di masa pemerintahan Kesultanan Cirebon kala itu. Pada tahun 1952, seorang pedagang dari Sumedang yang bernama Abah Nurfa'i, dengan beberapa kawannya menyertakan Reak ini di acara “Ngaronggeng”, yang merupakan sebuah ritual pesta untuk perayaan panen padi, yang dilakukan disekitar Pusat Pemerintahan Distrik Ujungberung Tempo Doeloe (Komplek Neglasari Sekarang). Pada tahun 1962, Aki Rahma dan Abah Juarta yang berasal dari Cinunuk, mengubah fungsi seni Reak tersebut dijadikan seni pertunjukkan untuk mengarak anak yang ber-khitan. Mereka menghilangkan warditha angklung sehingga suara yang lebih dominan bermuara dari waditra dogdog. Karenanya, seni ini kemudian pada akhirnya diberi nama seni “Reak Dogdog”. Reak dogdog sendiri ialah sebuah seni helaran atau petunjukan yang atraktif, yang dilakukan dengan cara berjalan beriringan menggunakan rute yang telah terorganisi (biasanya tidak jauh dari rumah yang ber- hajat (khitanan). Atraksi ini berupa iring-iringan yang diistilahkan sebagai dogju (dogdog maju) kemudian mengalami penambahan variasi iringan yang diistilahkan dengan atraksi dogcing (dogdog cicing). Kedua istilah ini muncul seiring dengan berjalannya waktu, keduanya tetap sama namun dibedakan oleh pergerakannya saja.[3][4]

Sedangkan versi lain mengatakan, konon, kesenian ini sudah lahir sekitar abad ke-12. Yang mana kala itu, Prabu Kiansantang (putra Prabu Siliwangi) menginginkan supaya penduduk pulau Jawa, terkhusus Jawa Barat menganut kepercayaan dan agama yang sama, yakni agama Islam. Dalam agama Islam terdapat sebuah kewajiban yang mengharuskan seorang anak laki-laki mesti dikhitan (sunat). Khitanan memiliki arti sebagai memotong bagian ujung penis, yang dalam pelaksanaanya sering membuat anak menjadi ketakutan dan menangis. Karenanya, para sesepuh asal Sumedang menciptakan suatu kesenian dan pertunjukan yakni Reag Dogdog dengan tujuan agar anak yang disunat terhibur dan berhenti menangis, sehingga mengurangi rasa takutnya. Sekitar tahun 50-an kesenian Reak Dogdog dibawa oleh para pedagang Sumedang ke daerah Cianjur. Karena itu, seniman reak di daerah Cianjur saat ini sebagian besar merupakan keturunan orang Sumedang.[3]

Perkembangan Reak Dogdog

Reak Dogdog pada awalnya merupakan sebuah kesenian yang memiliki fungsi untuk mengiringi arak-arakan untuk para petani saat panen tiba, yakni ketika petani mengangkat hasil panennya menuju ke lumbung padi (leuit), di perjalanan sepanjang jalan mulai dari sawah sampai ke leuit, para petani diiringi oleh kesenian reak ini. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, karena tumbuh respon baik dari masyarakat terhadap kesenian ini, lalu mulai bermunculan masyarakat yang meminta agar kesenian reak ini dilakukan untuk mengiringi atau pengarak anak-anak yang dikhitan. Posisi anak yang dikhitan duduk diatas tempat duduk yang telah disediakan (bisanya bisa berbentuk: singa, rajawali, atau semacamnya) yang nantinya akan diangkat oleh beberapa orang, saraya di arak mengelilingi kampung (daerah rumah tinggalnya) tak lupa didampingi dengan iringan musik reak yang khas. Salah satu ialah iringan yang merupakan khas dari kesenian ini ialah waditra dog dog, maka dari itu kesenian reak ini pada akhirnya sering disebut dengan kesenian dog dog atau reak dog dog.[3][5]

Unsur penampilan Reag Dogdog

Berikut sejumlah unsur tampilan yang mendukung seni pertunjukan Reak Dogdog meliputi properti, adalah sebagai berikut :

  1. Kuda Lumping, Reak Dogdog menampilkan dua kuda lumping yang dicat berlainan sebagai simbol dua kekuatan yang ada di muka bumi, yaitu baik (putih) dan buruk (hitam). Kuda lumping tersebut biasanya terbuat dari hoe (rotan) yang dilengkungkan. Pada bagian kedua ujung rotan dibuatkan sesuatu dari lumping (kulit binatang) yang bentuknya menyerupai kepala dan bokong kuda. Di bagian kepala dilengkapi dengan gongseng (kerincingan), seperti layaknya yang terpasang pada seekor kuda.
  2. Bangbarongan, Kepala Bangbarongan terbuat dari kayu dan bagian badannya terbuat dari karung goni. Pemilihan karung goni membuktikan kalau seni Reak adalah seni yang hidup di tengah lingkungan masyarakat petani.
  3. Jampana, Awalnya Jampana atau tandu hanya berupa kursi rotan. Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa ide inovasi mulai diterapkan. Mulai dari bentuk burung garuda hingga Bangbarongan.[2]

Busana dan tata rias Reag Dogdog

Busana dan Tata Rias Pakaian yang dikenakan saat pertunjukan Reak Dogdog adalah baju kampret dan celana pangsi berwarna hitam dengan perpaduan warna lainnya (merah, biru, kuning, dan ungu). Bahan yang digunakan yaitu katun untuk kain berwarna hitam dan satin untuk kain warna lainnya. Para pemain Reak Dogdog biasanya menggunakan celana berwarna hitam untuk menggambar kumis dan janggut sehingga memberi efek kesan berwibawa.[2]

Referensi

  1. ^ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 47
  2. ^ a b c Nugraha, Dzimar Hariz. "Asal-usul Reak Dogdog, Seni Pertunjukkan Perpaduan Tari-tarian dan Musik Sunda". Mata Bandung. Diakses tanggal 2025-11-17.
  3. ^ a b c "Reak Dogdog » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-11-17.
  4. ^ Redaksi. "Tapak Sejarah Reak, Seni Kesurupan yang Selalu Bikin Riweuh di Bandung Timur". AyoBandung.id. Diakses tanggal 2025-11-18.
  5. ^ Sundoro (2022-06-26). "MENJAGA TRADISI SENI REAK DARI WAKTU KE WAKTU". Siaran Indonesia. Diakses tanggal 2025-11-18.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.