Piroterapi

Piroterapi (pyrotherapy atau pyretotherapy) atau terapi demam merupakan metode pengobatan yang melibatkan peningkatan suhu tubuh untuk tujuan menyembuhkan penyakit. Konsep ini pertama kali dicatat oleh Hippocrates yang mengamati manfaat malaria untuk mengatasi epilepsi. Galen kemudian mencatat efek positif demam terhadap gangguan kejiwaan. Pada awal abad ke-20, metode ini digunakan untuk mengobati berbagai penyakit termasuk kondisi neurologis dan psikiatris seperti epilepsi, melankolia, dan psikosis, berkat kontribusi dari Julius Wagner-Jauregg, yang karyanya meraih Hadiah Nobel, dan pihak lainnya.[1][2]

Penggunaan

Julius Wagner-Jauregg menggunakan pasien dengan neurosifilis diinfeksi dengan malaria untuk menginduksi demam tinggi yang terbukti efektif dalam mengobati kondisi tersebut. Ia menyuntikkan darah yang mengandung malaria pada pasien dengan gangguan tersebut dan membiarkan mereka mengalami beberapa episode demam, kemudian menyembuhkan mereka dengan kina untuk mengatasi malaria.

Awalnya, Wagner-Jauregg bereksperimen dengan beberapa patogen seperti streptokokus, tuberkulin, dan stafilokokus, tetapi karena hasil yang tidak konsisten, ia beralih ke malaria, dengan fokus pada pengobatannya terhadap kelumpuhan umum pada orang gila (GPI), kini dikenal sebagai neurosifilis. Eksperimen awalnya melibatkan menginokulasi pasien dengan darah yang mengandung malaria dan membiarkan mereka mengalami serangan demam sebelum mengobati mereka dengan kina untuk menyembuhkan malaria.

Efektivitas

Percobaan ini menunjukkan hasil yang menjanjikan, dan terapi malaria segera diterima sebagai pengobatan untuk GPI dan gangguan psikotik lainnya. Klinik Wagner-Jauregg berhasil mengobati lebih dari 1000 pasien dengan GPI, dengan sekitar 60% mengalami berbagai tingkat remisi. Secara global, sekitar 80% pasien melaporkan remisi penuh, sementara 20% lainnya mengalami remisi parsial. Meskipun menunjukkan tingkat keberhasilan pada saat itu, penggunaan piroterapi mulai menurun setelah penemuan penisilin untuk mengobati sifilis, dan munculnya metode pengobatan berbasis kejang untuk gangguan psikotik, seperti terapi kejang dan koma insulin. Akibatnya, piroterapi hampir sepenuhnya diabaikan dalam pengobatan psikiatri. Konsep ini tidak lagi digunakan dalam standar perawatan medis selama lebih dari 50 tahun.[3]

Zachary D. Zuschlag menyatakan pada artikelnya bahwa kejadian ini mendapatkan laporan kasus seorang wanita berusia 43 tahun dengan gangguan skizoafektif yang mengalami perbaikan dramatis setelah mengalami episode bakteremia disertai demam tinggi. Pasien, yang memiliki riwayat kejiwaan skizoafektif tipe bipolar serta anemia defisiensi besi dan asma, dirawat karena keinginan untuk bunuh diri dan psikosis yang memburuk, termasuk paranoid, agitasi, disorganisasi, dan perilaku yang mengancam.

Sebelum masuk rumah sakit, dia menjalani pengobatan dengan haloperidol dekanoat, kuetiapin, natrium divalproeks, klonazepam, dan benztropin. Pasien terus mengalami gejala psikotik yang berat meski regimen pengobatannya disesuaikan. Dia kemudian dirawat dengan kombinasi obat lain, termasuk haloperidol, lorazepam, difenhidramin, dan klorpromazin. Namun, ketika gejala psikotiknya tidak juga membaik, dia mulai mengalami demam dan takikardia, disertai keluhan sakit tenggorokan dan nafsu makan berkurang.

Pemeriksaan menunjukkan adanya infeksi streptokokus alfa-hemolitik pada kultur darah meskipun tes cepat streptokokus negatif. Pasien kemudian diberi antibiotik untuk mengobati bakteremia. Demamnya bertahan meskipun telah diberikan pengobatan antibiotik, dan takikardia semakin parah. Pasien akhirnya dipindahkan ke rumah sakit umum, dan antibiotik yang lebih luas diberikan. Beberapa penyesuaian dilakukan terhadap pengobatan psikiatrisnya, termasuk penghentian haloperidol dan benztropin.

Setelah dua minggu, pasien mengalami perbaikan signifikan dalam kondisi medisnya dan dipindahkan kembali ke rumah sakit jiwa. Meskipun bakteremia dianggap penyebab demam, asal infeksi awal tetap belum jelas. Dari sisi psikiatri, pasien menunjukkan perbaikan mencolok selama dirawat di rumah sakit umum. Setelah pengobatan medis yang intensif, dia tidak lagi menunjukkan gejala psikotik yang signifikan, meskipun sempat mengalami beberapa perilaku aneh dan suasana hati yang tidak stabil. Setelah stabil, pasien dipindahkan kembali ke unit psikiatri dan diterapi dengan klozapin dan divalproeks dalam dosis yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya.

Penelitian

Penelitian pada 1950-an menunjukkan bahwa demam merangsang aksis hipotalamus-pituitari untuk melepaskan hormon adrenokortikotropik dan kortisol, yang dapat mengurangi kadar eosinofil dan limfosit. Hal ini dianggap sebagai mekanisme yang membantu pengobatan neurosifilis. Selain itu, penelitian lebih lanjut menunjukkan adanya interaksi antara demam dan neurotransmiter serta efeknya pada stres oksidatif dan peradangan, yang juga dipelajari dalam konteks autisme. Penelitian terbaru juga mengeksplorasi potensi senyawa seperti sulforaphane dari brokoli untuk meredakan stres oksidatif dan peradangan, yang dapat berperan dalam pengobatan gangguan spektrum autisme. Meskipun demikian, masih ada banyak yang perlu dipelajari tentang bagaimana demam dapat memengaruhi penyakit psikotik, dan saat ini kasus-kasus yang melibatkan perbaikan kondisi psikotik akibat penyakit demam sudah jauh berkurang.

Para penulis merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Moreira dan Sager pada tahun 1950-an, yang menemukan bahwa demam merangsang hipotalamus untuk melepaskan hormon adrenokortikotropik dan kortisol, yang menyebabkan penurunan eosinofil dan limfosit. Mereka berpendapat bahwa mekanisme ini bisa menjelaskan mengapa demam dapat mengobati neurosifilis. Studi lain juga menunjukkan adanya interaksi antara demam dan neurotransmiter serta hubungan antara respon sengatan panas yang mengurangi stres oksidatif dan peradangan, yang dapat berguna dalam pengobatan autisme.

Para penulis juga mencatat bahwa faktor lain, seperti perawatan medis (misalnya antibiotik) dan perubahan pengaturan rumah sakit, mungkin berkontribusi pada perbaikan pasien. Mereka menyarankan penelitian lebih lanjut mengenai peran demam dalam pengobatan gangguan mental, dengan mengingat bahwa terapi ini tidak dapat dilakukan dengan sengaja menginfeksi pasien. Jalan potensial untuk penelitian lebih lanjut termasuk penggunaan sulforaphane atau agen pirogenik non-infeksius sebagai terapi tambahan untuk psikosis refrakter, serta memeriksa apakah ada penyakit demam tertentu yang dapat meningkatkan psikosis.

Dengan ditemukan penisilin sebagai pengobatan untuk sifilis dan berkembang terapi lain seperti terapi kejang listrik dan terapi koma insulin untuk gangguan psikotik, popularitas piroterapi menurun sejak tahun 1950-an. Meskipun demikian, terdapat laporan kasus di abad ke-21 yang menunjukkan resolusi gejala psikotik ada pasien dengan gangguan skizoafektif setelah bagian bakteremia dengan demam tinggi, menunjukkan bahwa piroterapi mungkin memiliki potensi terapeutik yang belum sepenuhnya dieksplorasi dalam konteks modern.

Referensi

  1. ^ Gartlehner, G; Stepper, K (2012 Aug). "Julius Wagner-Jauregg: pyrotherapy, simultanmethode, and 'racial hygiene'". Journal of the Royal Society of Medicine (dalam bahasa Inggris). 105 (8). doi:10.1258/jr.
  2. ^ ZUSCHLAG, ZACHARY D.; LALICH, CALLIE J.; SHORT, EDWARD B.; HAMNER, MARK; KAHN, DAVID A. (2016-09). "Pyrotherapy for the Treatment of Psychosis in the 21st Century: A Case Report and Literature Review". Journal of Psychiatric Practice. 22 (5): 410–415. doi:10.1097/pra.0000000000000181. ISSN 1527-4160.
  3. ^ Yasgur, Batya Swift (2016-10-28). "A Burning Question: Can Pyrotherapy Treat Psychosis?". MPR (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-03-07.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.