Kayik Nari
Kayik Nari atau Kayiak Nari adalah tradisi adat Suku Serawai di Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu yang berupa ritual khitan (sunat) untuk anak perempuan usia sekitar 5-7 tahun, diiringi dengan upacara adat termasuk menari. Tradisi ini bertujuan untuk menandakan anak perempuan telah memasuki usia balig, menjadi sarana pendidikan religius dan budaya, serta mengandung nilai keimanan, akhlak, dan ibadah.[1]
Asal kata Kayik Nari
Kayiak nari terdiri dari dua kata: kayiak, yang merujuk pada ritual mandi di sungai atau sumur, dan nari, yang menggambarkan prosesi tarian yang dilakukan selama acara tersebut. Ritual ini tidak hanya sebagai simbol pertumbuhan fisik, tetapi juga sebagai cara untuk memohon perlindungan dan berkah bagi anak yang baru memasuki usia dewasa. Ritual ini merupakan bagian penting dari adat di Kabupaten Bengkulu Selatan, yang melibatkan rangkaian proses mandi, penampilan seperti pengantin, serta tarian khusus yang dipandu oleh seorang dukun beranak.[2]
Propeti Kayik Nari
Proses persiapan ritual Kayik Nari dimulai dengan sejumlah bahan dan perlengkapan yang harus disiapkan. Di antaranya adalah air jampian jeruk nipis, pakaian adat lengkap dengan perhiasan untuk pengantin kecil, dua buah tikar dari anyaman daun pandan yang dibentangkan membentuk tanda tambah, dan beras yang dicampur kunyit hingga berwarna kuning yang dimasukkan dalam suatu wadah. Selain itu, tunas kelapa yang masih muda dengan maksimal tinggi 1 meter juga digunakan sebagai simbol harapan agar anak yang menjalani ritual ini tumbuh sehat dan bermanfaat seperti pohon kelapa yang dapat dimanfaatkan dari ujung daun hingga akar.[2]
Pelaksanaan Kayik Nari
Prosesi ritual Kayik Nari dilaksanakan melalui 2 tahapan yakni sebagai berikut :
1. Kayiak
Pertama pengantin keciak (anak yang dikayiak narikan) terlebih dahulu diajak mandi ke air besar/sungai dengan memakai kain basahan. Prosesi kayiak ini dibantu oleh dukun beranak yang membantu saat persalinan si bayi. Saat sampai di sungai, si anak perempuan itu disuruh mandi sendirian dulu sesuka hatinya. Setelah itu anak disuruh duduk di atas batu untuk dimandikan oleh sang dukun beranak. Saat memandikan pengantin keciak, sang dukun membacakan mantera/doa. Mantera itu berbunyi, “Ya Allah ya Tuhanku semoga anak ini cepat besak, soleha, dan bisa menjaga diri.” Selanjutnya pengantin keciak diusap dengan air jampian dari perasan jeruk nipis. Selesai mandi, si anak/pengantin keciak diajak ke rumah tetangga yang berada di dekat sungai itu untuk memakai pakaian dan di rias layaknya seorang pengantin. Pengantin keciak dirias dengan pakaian adat dan tajuak pengantin. Selain itu, di bagian belakang sanggul pengantin keciak diselipkan daun sirih, beringin, dan sedingin. Kalau pengantin sudah siap, maka disuruh seorang utusan untuk menyampaikan pada sepokok rumah atau orang tua bahwa pengantin kecil sudah selesai mandi dan siap ke proses selanjutnya. Kemudian datanglah rombongan rebana menjemput pengantin keciak dan rombongan prosesi kayiak tadi. Pengantin keciak diarak ramai-ramai berjalan sampai ke rumah pokok acara.[3][4]
2. Nari
Kemdudian yang selanjutnya Nari, yaitu saat rombongan pengantin keciak sudah sampai di rumah pokok acara, orang tua akan mengumumkan bahwa pengantin keciak sudah sampai. Kemudian disiapkanlah peralatan untuk ritual tari/nari. Tikar anyaman 2 buah dibentangkan dengan membentuk tanda + (tanda tambah). Tunas kelapa diletakkan di tengah-tengah tikar untuk dikelilingi saat prosesi menari nanti. Tunas kelapa ini maknanya adalah sebuah harapan semoga anak yang dikayiak narikan ini bisa tumbuh sehat dan berguna bagi orang banyak seperti pohon kelapa yang dari ujung daun sampai ujung akarnya bisa dimanfaatkan.[3][4]
Setelah siap, pengantin keciak akan menari tari andun yaitu tari kebanyakan bersama dengan kawan sebayanya mengelilingi tunas kelapa tadi. Pengantin keciak menari ditemani oleh dukun berannak tadi. Dukun beranak menari sambil memegang payung dan uang puluhan ribu. Maknanya adalah sebuah harapan semoga si anak selalu dilindungi dalam keadaan apa pun dan banyak rezkinya. Sedangkan orang yang menari mengikuti anak tersebut melambangkan anak tersebut sebagai panutan atau contoh yang baik bagi masyarakat.[3][4]
Saat menari Andun kebanyakan ini tetap diiringi oleh musik kelintang dan redap. Gerakan yang dipakai nari saat prosesi kayiak nari ini sedikit berbeda dengan tari andun saat acara gegerit bimbang adat. Pada prosesi kayiak nari ini, gerakannya adalah naup~ mbuka ~ nyentang ~nyengkeling, lalu kembali lagi naup~mbuka. Pengantin keciak menari bekanyakan bersama kawan sebayanya sebanyak 7 keliling. Saat kelilingan ke-7, ibu dari pengantin keciak akan menghamburkan beras kuning (beras yang telah dicampur dengan kunyit halus). Terkadang kalau keluarga yang punya hajatan terbilang mampu, maka akan ditambah juga dengan menghamburkan uang recehan. Ini maknanya adalah berbagi rezki.[3][4]
Selesai ritual nari, pengantin keciak bersama-sama kawan narinya tadi diajak ke dalam rumah untuk dijamu makan kue-kue dan minuman dibimbing oleh dukun beranak tadi. Sedangkan orang-orang di luar akan melanjutkan acara jamuan makan buantagh di belabar. Sebelum menjamu makan, dikirimkan dulu doa-doa untuk si pengantin keciak. Pengantin keciak yang sudah menjamu kawan-kawannya dengan kue-kue tadi juga keluar untuk makan di luar. Setelah acara jamuan selesai, hiasan pengantin keciak dilepas semua. Daun sirih dan daun beringin tadi diletakkan di atas pintu bagian tengah rumah, dibiarkan terus sampai mengering dan habis sendiri. Ini maknanya semoga si anak yang dikayiak narikan tadi hatinya terus dingin, baik hati, dan sehat selama hidupnya. Dengan selesainya si anak perempuan dikayiak narikan maka ini berarti menandakan bahwa anak ini sudah siap menemani temannya yang lebih dewasa dan nanti jika ada yang membutukan anak perempuan, anak ini sudah bisa melakukan aktivitas seperti orang dewasa, misalnya jika zaman dahulu membantu untuk kegiatan ngetam (panen padi).[3][4]
Pelestarian
Kayik Nari resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia asal Bengkulu Selatan pada 7 Oktober 2025, oleh Tim Ahli Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.[5]
Referensi
- ^ koranrb.id (2024-06-28). "Tradisi Kayiak Nari Adat dari Bengkulu Selatan". koranrb.id. Diakses tanggal 2025-11-19.
- ^ a b "Kayiak Nari: Ritual Adat Bengkulu Selatan yang Menandakan Anak Perempuan Memasuki Usia Baligh | Untuk Masa Depan Indonesia". indonesiaraja.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-19.
- ^ a b c d e Pransiska, Maya. "TRADISI KAYIAK NARI BENGKULU SELATAN". Gurusiana. Diakses tanggal 2025-11-19.
- ^ a b c d e koranrb.id (2024-06-28). "Tradisi Kayiak Nari Adat dari Bengkulu Selatan". koranrb.id. Diakses tanggal 2025-11-19.
- ^ "Dua Kesenian Bengkulu Selatan Ditetapkan Sebagai WBTB". rri.co.id. 17-11-2025. Diakses tanggal 19-11-2025. ;
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.